.

Glitter Text
Make your own Glitter Graphics

selamat datang.........

semoga Allah selalu memudahakn jalan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh

mungkin ini adalah saya

Foto saya
asalamu'alaikum wr.wb, dalam naungan Ridho Illahi semoga hidup penuh kedamaian walau didahului oleh permusuhan.. salam ukhuwah islamiyah

kisah 2 orang pelukis

Semilir angin menyentuh kalbu. Kicauan burung membangunkanku dari tidur nyenyakku. “Parno, bangun! Sudah jam tujuh. Nanti kita kehabisan stok alat lukis lho. Ayo, cepetan bangun!”, ucap Widodo padaku sambil menyibak selimut di tubuhku. Ku singkap lagi selimut penghangatku. “Parno, cepetan! Aku tunggu di depan”, katanya lagi sambil melangkah pergi dari kamarku. Aku mendengar sekali deretan keras pintu kamarku yang kembali tertutup. Ku lihat kalender di atas meja. Ya, tanggal 26 September. Aku baru teringat bahwa hari ini memang ada bazar besar-besaran alat lukis. Langsung ku sibak selimutku kembali. Ku langkahkan kakiku ke kamar mandi, buru-buru membersihkan badanku. Tak terasa sudah sepuluh menit lebih Widodo menungguku. “No, buruan! Keburu angkot pada ke kota”, teriak Widodo dari teras depan rumah. “Iya bawel. Masih cari celana”, jawabku kesal. “Makanya, sesudah pakai celana itu langsung digantung, jangan dibuat benang gak karuan”, katanya dengan nada ketus. Ku pakai celana ala kadarnya, walau tak matching dengan baju yang ku kenakan. Ku gebrakkan pintu kamarku, meluncur ke teras depan. “Ayo berangkat. Mana angkotnya?”, kataku sambil merapikan baju. “Wah...wah...wah den bagus celananya rapi sekali? Jarang lho, ada orang yang berpakaian seperti ini?”, ejek Widodo padaku. “Masa bodoh dengan pakaian. Aku ya aku. Mereka ya mereka. Udah, ayo kita berangkat ke bazar”, kataku membalas. “Mau naik apa? Bazar itu di kota. Ini desa. Jauh sekali jaraknya kalau kita mau ke kota. Hanya gara-gara celana bututmu ini, kita gagal mendapatkan alat lukis yang dari dulu menjadi cita-cita kita. Semuanya percuma”, ujar Widodo lemas. Ku sandarkan pundakku ke tembok dekatnya terduduk letih, memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi. “Tapi kalau kita tidak mendapatkan segera alat lukis itu, kita akan dimarahi Pak Rahmat. Kita bisa saja dibunuh dengan pistolnya atau mungkin dengan belatinya. Lusa sudah harus jadi kan pesanannya? 50 lukisan itu bukan jumlah yang sedikit. Kita juga bisa meraup keuntungan yang banyak. Kamu gak tergiur?”, kataku merayunya. “Apa? 50? Kau bilang hanya 20 lukisan, sekarang kok jadi 50? Gombal kau”, katanya. “Terserah kau mau percaya padaku atau tidak. Yang penting aku akan ke kota sekarang. Bazarnya keburu tutup”, kataku sambil melangkah pergi meninggalkannya. “Tunggu, aku ikut”, katanya menyusulku.


Aku dan Widodo menumpang truk yang membawa ketela jurusan ke kota. Untung saja sopirnya masih sekampung denganku, jadi tak dipungkiri jika ia mau mengantarkanku hingga sampai di bazar. Perjalanan ke kota bisa sampai 3 jam. Ku lihat Widodo tertidur pulas di samping Pak Karno si sopir. Tak ku sangka ternyata rasa kantuk juga menghampiriku. Entah sudah berapa lama aku dan Widodo tertidur dalam perjalanan. Pak Karno membangunkanku,”Parno, Widodo, bangun. Sudah sampai di kota”. Ku buka mataku sambil masih menahan rasa kantuk yang teramat sangat. “Terima kasih ya pak, atas tumpangannya. Widodo, ayo bangun. Sudah sampai”, ucapku.


Sesampainya di kota, aku dan Widodo bingung, arah mana yang menuju ke bazar. Daerah ini sangat ramai dan luas. Ku susuri jalan sambil bertanya-tanya pada orang-orang. Setelah sejam lebih berputar-putar ria mencari bazar, baru ditemukan. Ternyata bazar hanya berada di belakang arahku, saat aku dan Widodo turun dari truk tadi. “Bodoh sekali kau, bazar Cuma disitu, dari tadi muter-muter menghabiskan tenaga”, Ucap Widodo kesal sambil menunjuk ke arah bazar. “Kau ini kenapa kalau semenit saja tidak marah-marah. Ku tinggalkan kau disini, mau?”, jawabku ketus. “Iya, iya. Aku gak akan ngomel lagi deh”, katanya mengalah.


Tempat bazar ini luas sekali. Banyak alat-alat lukis yang belum pernah ku jumpai sebelumnya. Menakjubkan. Aku dan Widodo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keindahan alat-alat lukis. Ku putuskan membeli 100 set alat lukis. Walau kehabisan modal, namun aku tak kehabisan akal. Ku pinjam modal si Widodo. Dengan polosnya dia memberikannya padaku.”Hahahahahah...”, aku tertawa geli sendiri melihat keluguan Widodo. Setelah ku dapatkan itu semua, aku dan Widodo segera meluncur pulang ke desa. Toh, jam juga sudah menunjukan pukul 5 sore. Aku dan dia mulai bingung, harus pulang dengan tumpangan apa. Tak mungkin sekali jika naik bus. Uang di sakuku sudah terkupas tuntas. Sedangkan Widodo, sakunya hanya tersisa seribu perak.


“Bagaimana kalau lukisan ini kita kerjakan disini?”, ide konyol si Widodo.


“Apa yang kau maksud? Kita akan tinggal di kota ini?”, Ucapku penuh tanya.


“Mungkin begitu”, jawabnya lagi dengan enteng.


“Sudah gila kau ini. Kota itu keras. Tak mungkin kita akan betah hidup di kota ini, hanya dengan bermodal jualan lukisan? Lalu bagaimana dengan Pak Rahmat?”, ujarku.


“Ya kita tinggal bilang saja ke dia, kalau pesanannya ada di kota ini. Tidak lagi di desa. Mudah kan?”, jawabnya lebih meremehkan dari sebelumnya.


“Mudah gundulmu itu! Tak semudah yang kau bayangkan. Di kota ini, kita tidak akan makan apa-apa. Lukisan seperti ini tidak laku jika kita jual di kota. Ini lukisan biasa”, bentakku.


“Kalau kau tak mau, besok kita cari pabrik tempat Pak Karno. Kita akan menumpang lagi truk nya. Dan kita bisa menyicil proyek lukisan ini”, ujar Widodo serius.


Malam ini aku dan Widodo istirahat di kolong jembatan. Mungkin malam ini mata tak akan terpejam. Karena hanya waktu seminggu, aku dan Widodo harus menyelesaikan pekerjaan ini. Lumayan, sudah 21 lukisan yang sudah terselesaikan hingga pagi hari.


Pagi buta, ku benahi alat-alat lukis ini. Sedang Widodo tertidur dengan beralaskan tanah. Ku bangunkan dia dengan segera. Aku dan dia mulai menyusuri pabrik demi pabrik. Akhirnya ku temukan truk Pak Karno terparkir di salah satu pabrik ketela. Ternya Pak Karno ada di dalam truk nya. Segera ku membangunkannya. “Pak Karno, bangun”, kataku. “Ada apa lagi bos?”, katanya ngelantur. “Pak, ini aku, Parno. Numpang lagi ya Pak”, kataku sedikit tersenyum. “Kemana lagi?”, tanyanya. “Balik ke desa. Uangnya sudah terkuras habis buat beli alat-alat lukis. Boleh kan Pak?”, rayuku. “Ya sudah. Buruan naik. Mana Widodo?”, jawab Pak Karno yang baik hati. Ku cari Widodo hingga pusing. Ternyata dia sudah tergeletak di kursi samping Pak Karno. Tertidur sangat pulas, bahkan lebih pulas dari sebelumnya. “Huh... dasar borem”, kataku sambil naik ke truk lalu duduk di dekatnya. “Borem itu siapa to No?”, tanya Pak Karno sambil menyalakan mesin truk nya. “Borem itu tibo merem Pak. Sekali duduk pasti langsung tidur. Ya kayak Widodo ini. Sudah pak, berangkat saja. Tapi hati-hati ya Pak. Jalanan masih gelap”, kataku menjelaskan. “Iya, iya”, jawab Pak Karno. Perjalanan ke desa dimulai.


Tak lama dalam perjalanan, kurasakan goncangan yang sangat kuat. Truk yang ku tumpangi ternyata jatuh ke jurang. Ku lihat tubuhku melayang. “Ya Tuhan, selamatkan kami”, teriakku. “Bruk...bruk...bruk”, suara truk yang ku tumpangi jatuh membentur dinding curam jurang. Jatuh, tergeletak, dan terbakar. Widodo yang belum sadarkan diri dari tidurnya hampir ikut terbakar. Segera ku tarik tanganya menjauh dari truk. Entah bagaimana dengan Pak Karno. Aku sudah sangat panik sekali. “Truk nya kenapa bisa terbakar?”, tanya Widodo saat ku tarik tangannya lari menjauh. “Nanti saja aku jelaskan”, jawabku. Aku jatuh terkulai lemas.


Suasana ini masih terlalu pagi. Namun sudah banyak orang yang lalu lalang. Mungkin ada yang segera melaporkan ke polisi tentang kecelakaan ini. Secepat mungkin ada yang mengevakusiku, Widodo, dan Pak Karno. Saat aku tersadar, ku lihat bujur kaku tubuh Pak Karno yang terbakar hangus. Widodo hanya kakinya yang lecet karena tersandung batu besar dan sedikit lecet di bagian punggungnya terkena bara api. Sedang aku? Tubuh penuh luka memar. Tak apa, yang penting masih selamat. Aku dan Widodo dimintai keterangan di kantor polisi. Ku anggap kecelakaan ini dikarenakan Pak Karno masih dalam keadaan sangat lelah dan mengantuk sekali. Aku dan Widodo di antar ke desa oleh anggota kepolisian. Dan mayat Pak Karno akan segera di makamkan pula di desa.


Sesampainya di desa, aku dan Widodo sangat berterima kasih sekali pada pihak kepolisian yang telah memulangkan ke desa lagi. “Widodo, lukisannya?”, ucapku dengan sangat berdebar sekali. “Ya ampun No. Kita sampai lupa dengan pekerjaan kita. Tinggal hari ini. Besok dia sudah kesini. Bisa mati kita nanti di tangannya. Begini saja, kita kumpulkan lukisan kita yang dulu. Kita bersihkan, lalu besok kita serahkan ke dia. Gimana?”, ucap Widodo. “Kau itu sudah gendeng ya. Dia pasti tahu kalau lukisan yang kau rencanakan itu sudah dari zaman dulu”, jawabku. “Apa salahnya kita mencoba? Toh, jika kita mau beli alat lukis baru, mau nyolong uang darimana? Ngepet? Gak kan? Kita itu bukan orang kaya. Kita akan jadi orang kaya kalau kita sudah berusaha dengan cucuran keringat. Tak semudah para seniman kaya, yang alat-alat lukisnya terkadang dari luar negri. Kita bisa seperti mereka, tapi dengan usaha kita sendiri, ‘kita ya kita, mereka ya mereka’ , mengerti kan maksudku?”, jawab Widodo panjang lebar. “Baiklah. Aku yakin dengan adanya kecelakaan ini, Tuhan semakin membuka rahmatnya untuk kita. Sudah jangan buang-buang waktu lagi. Kita cari lukisan kita yang dulu”, kataku.


Di gudang, di kamar, di bawah tangga, sudah ku temukan lengkap lukisan ku dengan Widodo semasa dahulu. Ku kumpulkan hasilku dengan hasil penemuan Widodo. 60 lukisan. Tersisa 10 lukisan untuk tertinggal di rumah. Yang 50 akan berhijrah ke tangan lain.


Keesokan harinya, Pak Rahmat datang ke rumahku, mengambil lukisan pesanannya. Saat Widodo menyerahkannya, Pak Rahmat dengan seksama meneliti setiap sudut dari lukisan itu. Barangkali masih ada yang cacat. Aku dan Widodo sudah sangat panik sekali melihat raut wajahnya. Menyeramkan. Merah padam. Sepertinya aku ingin segera lari. Namun pasti akan terkejar walau di dasar lautan sekalipun. Lega, dia pergi dengan lukisan-lukisan itu.


Namun keesokan harinya dia ke rumahku lagi. Sepertinya ia menjadi bahaya bagiku dan Widodo. Tiba-tiba dia menyuruhku masuk ke dalam mobilnya untuk mengambilkan uang bayaran lukisan. Aku merasa ada yang ganjal. Aku disingkap. Tak sadarkan diri lagi. Entah bagaimana dengan Widodo, apakah ia akan menolongku atau membiarkanku. Saat ku buka mata, aku sudah berada di ruang sempit, sesak, gelap dan sepi. Hanya ada satu lampu teplok yang menempel di dinding di atas kepalaku. Kakiku di pasung. Tanganku diikat dan mulutku diganjal dengan kain. Ku coba gerak-gerakkan tanganku, berharap tali yang mengikatku terlepas. “Krek....”, pintu terbuka. Ada sedikit cahaya menerangiku. Orang bertubuh besar itu menghampiriku,”Kau tahu mengapa kau berada disini?”, tanyanya dengan nada sangat keras padaku. “Kau suruhan Pak Rahmat kan? Bilang kepadanya, lukisan-lukisan itu segera di bayar. Aku sangat bersusah payah sekali mengerjakannya dalam dua hari ini”, jawabku.


Tiba-tiba Pak Rahmat mendatangiku,


”Bodoh kau! Aku minta lukisan yang bagus dan edisi baru. Mengapa kau berikan padaku lukisan kusam dan pula sudah usang? Kau tahu, aku di pecat oleh bos ku. Bagaimana mungkin aku membayar lukisan bodohmu ini. Dan kau juga tahu? Aset kekayaanku di kupas habis oleh bos ku. Dan itu semua karena ulah bodohmu! Kau harus bayar semuanya, dengan nyawamu!”


“Apa? Nyawa? Kau mau membunuhku?”, kataku sambil histeris ketakutan.


Darah mengucur dari tanganku. Aku sudah kehilangannya, tangan kananku. Dia tega memotong separoh tangan kananku agar aku tak bisa lagi melukis, yang menjadi cita-citaku dari kecil. Tak juga itu, kepalaku hampir dibakarnya dengan lampu teplok. Sungguh dia manusia biadab. Namun, aku mencium bau Widodo. Dan baunya semakin mendekat. Aku sekarang bisa tahu keberadaannya. Dia di belakang si tubuh besar bodyguard Pak Rahmat itu. Widodo memukul kepala si tubuh besar itu dengan botol wisky. Berdarah sudah kepalanya. Dia terkulai lemas di lantai. Pak Rahmat yang mengetahui hal itu, segera menoleh ke belakang. Diambilnya lagi botol wiski dan sedikit melangkah mundur untuk bersiap-siap menjatuhkannya ke lantai. Widodo memancing agar Pak Rahmat tak menghiraukan keberadaanku lagi. Aku tahu Widodo sangat ketakutan sekali karena Pak Rahmat masih menggenggam belati yang masih berlumuran darah. Mundur dan mundur lagi. Aku berusaha sekuat tenaga untuk melepas pasungan di kakiku dengan kunci yang sudah dilemparkan Widodo sedari tadi. Walau hanya dengan tangan kiri, aku bisa membuka pasungan itu. Dengan tergopoh-gopoh, ku ambil pistol di saku si tubuh besar. Ku luncurkan peluru ke arah punggungnya. Jatuh dan mati. Si biadab sudah mati. Aku terduduk lemas di lantai, melihat keadaanku sendiri yang seperti ini. Widodo menghampiriku, lalu memelukku,”Parno, kau memang sahabat terbaik untukku selamanya. Ayo kita kembali ke rumah, mengobati luka-lukamu ini”, bisik Widodo. Dapat ku rasakan desah nafas kasih sayang darinya. Aku tertatih dalam perjalanan.


Sesampainya di rumah, Widodo langsung mengobati luka-lukaku. Tak mungkin ke dokter. Karena sangat jauh sekali. Hanya ada obat penawar sakit saja. “Ya Tuhan, ampuni aku. Aku telah membunuh ciptaanmu”, bisikku dalam hati.


“Kamu yang sabar ya, aku akan selalu disini menjaga dan menemanimu melukis lagi”, kata Widodo halus.


“Melukis? Aku sudah tak punya tangan. Aku tak akan bisa lagi menjadi seorang pelukis”, desahku.


“Kan kau masih punya tangan yang kiri? Belum tentu yang kiri lebih jelek dari yang kanan. Kan kau masih punya aku? Kau masih punya semangat, kawan. Jangan menyerah untuk meraih cita-citamu kawan. Dan jangan salahkan takdir. Karena takdir tak kan pernah salah”, kata Widodo.


“Benar apa yang kau katakan. Tak seharusnya aku mencair seperti ini. Aku harus menguap. Aku akan meraih cita-citaku menjadi seorang seniman lukis. Dan kau Widodo, kau juga akan menjadi seorang pelukis handal di negeri ini, atau bahkan sampai di negeri orang. Kita seniman terhebat”, kataku sambil berderai air mata kebahagiaan. Ku peluk Widodo erat-erat. Tak ingin ku jauh dari sahabatku ini.


5 tahun kemudian, aku berdiri di tepi pantai nan anggun,”Tuhan, Kau telah memberi ku segalanya”


Seniman terhandal di Asia Tenggara ; Parno Rugji


Dan widodo berdiri di sampingku,”Tuhan, Kau telah mengabulkan do’a ku”


Seniman terunik di seluruh dunia ; Widodo Joyokusumo

pesan hati

rindu.....
bila hatiku rindu, aku ingin menangis, ingin menjerit, berteriak. aku ingin mengais air mataku. namun hati tak mengizinkan. terkadang hati marah padaku. hati berkata padaku,"wahai anak manusia, jangan kau bebani fikiranmu dengan emosimu. jangan salahkan aku selalu. rindu yang kau alami bukan salahku. jangan salahkan aku untuk menariknya kepadamu".
"wahai hati, aku tak menyalahkanmu, aku hanya ingin kau tahu, bahwa rindu ini tak pantas untukku",kataku.
"jangan salahkan rindu itu. karena rindumu tak kan pernah menyakitimu".

kataku

bismillahirrohmanirrohim,
aku mencoba untuk menggugah semangat kecintaan yang dulu pernah kendur.
cinta bukan sebuah pena, yang seenaknya saja dicoretkan diatas lembaran putih tak berdosa untuk menggapai satu makna. tapi cinta adalah lembaran putih itu sendiri. terkadang, pena dan lembaran putih bertengkar untuk menentukan tangan mana yang akan memilihnya. bila ia memilih pena maka tidak mustahil bahwa suatu saat nanti tangan akan merasa kecewa. bila tangan memilih lembaran putih maka tidak mustahil pula bila suatu saat hingga tangan itu telah tiada akan merasakan kebahagiaan walau sebentar.
aku tidak mmenyalahkan pena maupun memuji si lembaran putih. namun ini kenyataan yang aku hadapi. dan menurutku ini adalah sebuah gambaran tentang cinta.
aku bukan orang puitis yang bisa memainkan kata. kata-kataku memang sederhana, karena inilah aku, tak lebih dari sebuah penghapus yang dibutuhkan hanya karena diperlukan.
terimakasih untuk para pembaca. semoga dengan kata-kata yang sederhana ini, aku denganmu bisa menjalin ukhuwah islamiyah.

DEMI FAJAR

Ku lirik jam dinding merah marun di sudut kamarku yang kurang lebih berukuran 5x5 m2 terus berdetak menunjukkan arah jarum jam 02.40 dini hari. Tidak terlalu dini untuk anak seumuranku, gadis remaja 17 tahun jika ada waktu Lail untuk sejenak sujud dan mengadu pada Sang Kholiq. Aku putuskan untuk membuka mataku lebar-lebar, guna ku akan beranjak dari tempat tidurku. Di kamar mandi samping kamar Ibu dan Bapakku tempat yang ku tuju untuk membasuh sebagian badanku, agar kurasakan kesegaran hawa dini hari, atau mungkin bisa saja, orang-orang menyebutnya dengan wudlu. Aku teringat akan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dulu, “ Basuhlah sebagian tubuhmu saat kau telah beranjak dari tidurmu, karena sesungguhnya agama Islam penyempurna ini cinta pada kebersihan”. Ya, seperti itulah kanjeng Nabi menuturkan.




Ku ambil sajadah dan mukena di balik rak buku, tepatnya di almari pakaianku. Kubentangkan sajadah merah muda yang kini warnanya sudah mulai pudar. Namun manfaatnya tidak akan pernah pudar sampai tiada hari lagi. Ku bersimpuh dihadapan Tuhan Yang Maha Esa. Mengadu dan memohon sejadi-jadinya, berharap aku tidak merasakan lagi nafas yang selalu hambur saat melakukan aktifitas. Yang biasanya saat aku membantu bapakku mengangkat barang-barang, oksigen sungguh sulit sekali rasanya untuk masuk ke dalam paru-paru mungilku. Boleh saja itu asma. Aku mengidap asma sudah sejak umur 13 tahun. Ku jalani hari-hariku sebagaimana biasanya walau terkadang penyakit ini datang tanpa undangan. “ Ya Tuhan… beri hamba-Mu ini kelapangan dada untuk bisa merasakan dan menikmati apa yang telah Kau berikan pada hamba. Karena hamba yakin dan percaya, suatu hari nanti Kau akan mengambil apa yang ada pada hamba”, begitulah sepercik do’aku yang mungkin lebih sering ku panjatkan pada Pemilik nyawa ini.




Ku pandangi jam yang sedari tadi berdenting keras. Arahnya menunjukkan pukul 05.00 pagi.” Astaghfirullah, aku ketiduran saat sholat tadi”, pekikku dalam hati. Segera kulaksanakan solat Shubuh.




Pagi ini sepertinya embun sedang enggan menyapa. Tak kudapati ia di ranting pohon depan rumah. Padahal ia berjanji akan menyapaku pagi ini diatas pipiku. “ Dian…… bantu bapak angkat barang-barang ini. Ibumu masih sibuk dengan kerjannya. Ayo Dian, buruan.. keburu dipatok ayam nanti rezeki kita”, ujar bapakku yang memang setiap harinya selalu sibuk mengangkat barang-barang untuk dijualnya di pasar. “ Iya bapak”, jawabku singkat. Ku langkahkan kakiku mendekatinya. “ Jangan lupa, cabe yang di karung paling besar itu juga dimasukkan”, tegas bapakku. “ Iya bapak”, jawabku sekali lagi dengan singkatnya seperti jawabanku yang mula tadi saat ia memanggilku. Di tengah kesibukanku mengangkat barang, Risna teman karibku muncul tanpa di undang pula,” Benar kata bapakmu itu Din, kalau gak segera diambil, rezekinya bakal diambil dulu sama ayam, alias orang lain yang lebih beruntung”.




“ Risna, kamu pagi-pagi gini kok sudah apel dirumahku? Cari mas Didin? Atau …”, tebakku.




“ Atau apa? Tadi itu aku gak sengaja lewat sini, habis dari mengantar ibu ke jalan Suromenggolo. Aku dengar sekali suara khas bapakmu, saat bilang tentang rezeki itu”, ujar Risna.




“Oh ya, nanti kita bahas lagi masalah rezeki di kelas ya, sekarang aku masih harus bantu mengangkat barang-barang ini. Kalau kamu masih tetap disini saja, mungkin sampai besok, kerjaan ini gak akan kelar”, kataku.




“Toyyib, fahimtu ya ukhti, sa adzhab (ok, aku faham, aku akan pergi kok), assalamu’alaikum”, katanya dengan nada menyerah.




“ Wa’alaikumsalam, ya ukthi”, jawabku.




Jam berlalu dari angka 6. Saatnya aku untuk melaksanakan kewajibanku dalam menuntut ilmu. Madrasah Aliyah II tempat yang akan ku kunjungi dan bahkan sampai setahun setengah lagi aku di tempat itu. Aku mulai merasakan oksigen sulit sekali rasanya untuk ku hirup. Padahal pagi ini, awan dan udara cenderung bersahabat. “ Mungkin karena aku kelelahan membantu bapak mengangkat barang-barang tadi pagi”, tebakku dalam hati kecil.




Sesampainya, pukul 06.40 aku telah sampai di halaman depan ruang guru. Aku merasakan sakit yang luar biasa pada dadaku. Sungguh aku sangat sulit sekali untuk bisa menghirup oksigen. Apalagi perjalananku dari rumah hingga madrasah bisa memakan waktu kurang lebih 15 menit dengan mengayuh sepeda ontel milik ayahku dulu.




Tak tahu apa yang telah terjadi padaku. Aku terbangun dari pejaman mataku. Kulihat jam menunjukkan pukul 11.00 siang. Sejenak aku bingung dengan apa yang telah terjadi padaku. Namun hal ini bukan hal baru untukku. Aku mulai sadar bahwa aku berada di rumah sakit. Aku bernafas dibantu dengan selang kecil di bawah hidung, dan juga terdapat beberapa infuse di tanganku.




“ Alhamdullilah, kau sudah sadar? Tadi aku panik sekali. Kamu jatuh di depan ruang guru. Pak Isyaq yang sudah bawa kamu kesini. Beliau langsung memberi tahuku bahwa kamu pingsan. Ya sudah aku langsung kesini, nungguin kamu. Kamu gak papa kan?”, jelas Risna panjang lebar.




“ Ih…kamu seperti seorang Ibu aja. Takut jika anaknya sakit. Iya, ini sudah agak mendingan. Kamu gak ikut pelajaran? Kan ini waktunya Bu Aisyah, Ta’lim muta’alim?”, ujarku padanya.




“ Ah..gak aja. Lagi BM. Bad Mood gitu”, katanya sambil meraihkan segelas air putih dimeja sebelah ku berbaring.




Ku duga bahwa dokter akan memeriksaku sebentar lagi. Pradugaku benar. 5 menit kemudian dokter menghampiriku. Kacamata yang tebal, dan jenggot mengesankan watak keras pada dirinya. Namun ternyata tidak. Bahkan sebaliknya, ia sangat santun sekali dalam berbicara dan bertingkah. Aku sudah diperbolehkan pulang, jika memang aku sudah kuat dan merasa tidak memerlukan bantuan tabung oksigen itu. Sejam kemudian, aku beranjak meninggalkan ruangan yang penuh dengan aroma obat-obatan. Dengan diantar pak Isyaq yang sedari tadi sudah di telfon Risna untuk membantuku pulang ke rumah nanti.




Sesampai dirumah, Ibu dan Bapak sudah panik menungguku. Ternyata mereka sudah tahu bahwa tadi aku pingsan dan sempat dilarikan kerumah sakit. Mereka ingin sekali menengokku kesana, namun mobil growong yang biasa dibawa bapak masih dipinjam sebentar oleh bang Alen untuk mengambil bawang ke desa seberang.




“ Gimana nduk, sudah merasa mendingan belum. Tidur di kamar Ibu aja, nanti Ibu pijitin. Kamarmu masih dibersihkan sama mas-mu”, pekik Ibuku dengan penuh kekhawatiran (sambil membopongku ke kamarnya).




“ Terima kasih banyak ya pak, sudah mau mengantarkan Dina sampai rumah. Maaf sekali jika keadaan rumah kami seperti ini. Haha…maklum, rakyat kecil”, kata Bapak.




“ Jangan merendah seperti itu pak. Biar miskin harta yang penting kaya hati. Saya merasakan kesederhanaan dan kekayaan di keluarga ini. Keluarga yang sejahtera. Pak, apa Dina sudah sering sakit seperti ini?”, Tanya pak Isyaq.




“ Iya, sudah 4 tahun ini dia mengidap asma. Namun akhir-akhir ini parah. Sering keluar masuk rumah sakit. Untung saja keluarga kami mendapat surat tanda miskin. Jadi biaya rumah sakit sudah ditanggung sama pemerintah. Dokter-dokter di rumah sakit itu sudah mengenal Dina. Ya, karena Dina sering kesana. Haha, ngamar disana. Obat-obatan sudah menjadi makanannya. Sekali ia telat minum obat, dia akan merasakan sesak yang luar biasa”, jelas Bapak lengkap seperti apa yang sudah di paparkan dokter Adi 4 bulan yang lalu.




“ Bapak yang sabar ya, sesungguhnya Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Saya yakin, keluarga bapak adalah orang yang kaya dan kuat. Di balik ini ada hikmahnya pak. Sudah ketentuan dari Gusti Allah apa yang telah menimpa keluarga sakinah Bapak. Pak, saya mohon pamit dulu, takut jika nanti anak-anak bingung mencari saya, karena saat ini ada ujian Hadist. Saya permisi dulu, pak, salam untuk Dina dan Ibu, assalamu’alaikum”, tukas pak Isyaq, yang aku pun juga bisa mendengar kata-katanya dengan jelas.




Hari berganti hari, hingga berganti bulan. Masih seperti kebiasaanku untuk konsumsi obat secara rutin. Dini hari ini ada yang mengganjal dalam benakku. Saat seperti biasanya aku terbangun dari tidur dan mimpi indahku, aku mengambil air wudlu yang sedikit sekali kupercikan karena hawa pun rasanya juga berbeda dengan malam-malam kemarin, sedikit agak menusuk ruas-ruas tulang badanku. Takut jika seandainya nanti asma datang melanda tubuh yang semakin mungil ini. Sesaat setelah ku hadapkan jiwaku pada yang telah menciptakanku, kulantukan syair-syair indah dari Al-qur’an. Tak terasa pipiku telah basah oleh air mata. Air mata yang menggenang di bawah mataku sepertinya berhasil membuat jejak. Jejak bengkak yang bisa membuatku kelihatan seperti empunya mata sipit.




Detik-detik berlalu, aku memilih tidak masuk sekolah hari ini. Karena aku ingin dirumah saja hari ini. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku mengangkat barang-barang untuk dibawa ke pasar. Namun hanya sebentar saja aku membantu bapak. Karena rasa sesak sudah dahulu menghampiriku. Aku memilih untuk istirahat sejenak di ruang depan tv. Aku tertidur. Bahkan pulas. Aku bermimpi, aku berada di tempat seperti di desa. Penuh dengan bunga-bunnga bermekaran yang indah sekali. Aku melihat banyak sekali kupu-kupu berwarna-warni. Namun disitu, kebingungan datang padaku,” Mengapa disini sepi?”. Aku merasa sangat bahagia sekali di tempat yang ku sebut desa ini. Sangat luas. Maha luas.




“Din, bangun ! ayo sholat dhuhur. Ada teman-temanmu disini”, ujar mas Didin.




Aku terperanjat dari tidurku. Ku lihat di sekelilingku sudah banyak teman madrasahku. Aku bingung mengapa mereka ada di rumahku? Dan siapa yang membawa mereka kesini? Apa tujuannya? Ternyata aku sudah dua hari tertidur. Rasanya masih sejam yang lalu. Namun saat ku buka mata, yang kurasakan masih sama, hawa dingin yang menusuk tulang, dan awan biru tersenyum padaku.




“ Lho…..kalian disini? Kok tidak sekolah?”, tanyaku.




“ Din, kami jenguk kamu. Kata Risna kamu sakit lagi. Sudah dua hari tiada kabarmu. Entah angin mana yang membawa hati kami untuk menjengukmu”, ujar Tofik mewakili teman-teman lain. Kurang lebih ada 40an temanku yang menjengukku. Ada yang mengganjal di benakku. Rasanya, sakit yang selama ini mengurungku, kini seperti tak kurasakan lagi. Hilang, lepas dan bebas.




“ Din, ini pialamu”, tukas Tofik.




“ Piala apa?”, tanyaku bingung.




“Piala kejuaraan. Kamu memenangkan lomba debat Bahasa Arab mengenai ringkasan surat al-Fajr, dan ini pialanya. Masa kamu sudah lupa? Perjuanganmu selama ini tidak sia-sia, kawanku. Aku bangga berteman denganmu. Aku dan teman-teman berharap kamu bangkit dari sakitmu. Kamu pasti bisa sembuh Din. Kita semua sayang kamu, Din. Dan tak pernah terlintas di benak jika harus kehilanganmu”, jawab Tofik.




“ Ahhahahaha…… kamu bicara apa sih, aku kan gak pergi kemana-mana. Jadi tidak mungkin aku hilang.. kan aku sekarang disini. Terima kasih ya, kalian sungguh baik sekali padaku. Aku, belum bisa membalas kebaikan kalian. Biar Allah saja nanti yang membalasnya. Oya, bagaimanana keadaan pak Jarot? Beliau masih di rawat di rumah sakit?”, aku angkat bicara.




“ Alhamdulilah, beliau sudah sembuh. Sungguh luar biasa perjuangannya untuk sembuh. Ikhtiar dan do’anya tiada henti. Maka Allah mengabulkan segala do’anya untuk bisa segera sembuh dari penyakit batu ginjal itu. Sekarang, banyak murid-murid yang suka padanya”, ujar Tofik.




“ Kok bisa, bukankah beliau terkenal galak?”, tanyaku penuh dengan penasaran.




“ Jenggotnya sudah dikupas habis”, jawab Tofik




“ Hahahahahhahahah”, tawa teman-teman menggelegar dirumahku.




Sesaat kemudian, di tengah gelagak tawa mereka entah apa yang menyuruhku melantunkan sebuah lagu :




Bukankah hati kita telah lama menyatu




Dalam tali kisah persahabatan Illahi




Genggam erat tangan kita terakhir kalinya




Hapus air mata meski kita kan terpisah




Selamat jalan teman




Tetaplah berjuang semoga kita bertemu kembali




Kenang masa indah kita seindah hari ini




Sesaat kudengar lantunan ayat :




$pkçJ­ƒr'¯»tƒ ß§øÿ¨Z9$# èp¨ZÍ´yJôÜßJø9$# ÇËÐÈ ûÓÉëÅ_ö$# 4n<Î) Å7În/u ZpuŠÅÊ#u Zp¨ŠÅÊó£D ÇËÑÈ Í?ä{÷Š$$sù Îû Ï»t6Ïã ÇËÒÈ Í?ä{÷Š$#ur ÓÉL¨Zy_ ÇÌÉÈ




27. Hai jiwa yang tenang.




28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.




29. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,




30. Masuklah ke dalam syurga-Ku




Sejuk, tenang, damai, dan……………… gelap.


































DEMI FAJAR

Ku lirik jam dinding merah marun di sudut kamarku yang kurang lebih berukuran 5x5 m2 terus berdetak menunjukkan arah jarum jam 02.40 dini hari. Tidak terlalu dini untuk anak seumuranku, gadis remaja 17 tahun jika ada waktu Lail untuk sejenak sujud dan mengadu pada Sang Kholiq. Aku putuskan untuk membuka mataku lebar-lebar, guna ku akan beranjak dari tempat tidurku. Di kamar mandi samping kamar Ibu dan Bapakku tempat yang ku tuju untuk membasuh sebagian badanku, agar kurasakan kesegaran hawa dini hari, atau mungkin bisa saja, orang-orang menyebutnya dengan wudlu. Aku teringat akan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dulu, “ Basuhlah sebagian tubuhmu saat kau telah beranjak dari tidurmu, karena sesungguhnya agama Islam penyempurna ini cinta pada kebersihan”. Ya, seperti itulah kanjeng Nabi menuturkan.


Ku ambil sajadah dan mukena di balik rak buku, tepatnya di almari pakaianku. Kubentangkan sajadah merah muda yang kini warnanya sudah mulai pudar. Namun manfaatnya tidak akan pernah pudar sampai tiada hari lagi. Ku bersimpuh dihadapan Tuhan Yang Maha Esa. Mengadu dan memohon sejadi-jadinya, berharap aku tidak merasakan lagi nafas yang selalu hambur saat melakukan aktifitas. Yang biasanya saat aku membantu bapakku mengangkat barang-barang, oksigen sungguh sulit sekali rasanya untuk masuk ke dalam paru-paru mungilku. Boleh saja itu asma. Aku mengidap asma sudah sejak umur 13 tahun. Ku jalani hari-hariku sebagaimana biasanya walau terkadang penyakit ini datang tanpa undangan. “ Ya Tuhan… beri hamba-Mu ini kelapangan dada untuk bisa merasakan dan menikmati apa yang telah Kau berikan pada hamba. Karena hamba yakin dan percaya, suatu hari nanti Kau akan mengambil apa yang ada pada hamba”, begitulah sepercik do’aku yang mungkin lebih sering ku panjatkan pada Pemilik nyawa ini.


Ku pandangi jam yang sedari tadi berdenting keras. Arahnya menunjukkan pukul 05.00 pagi.” Astaghfirullah, aku ketiduran saat sholat tadi”, pekikku dalam hati. Segera kulaksanakan solat Shubuh.


Pagi ini sepertinya embun sedang enggan menyapa. Tak kudapati ia di ranting pohon depan rumah. Padahal ia berjanji akan menyapaku pagi ini diatas pipiku. “ Dian…… bantu bapak angkat barang-barang ini. Ibumu masih sibuk dengan kerjannya. Ayo Dian, buruan.. keburu dipatok ayam nanti rezeki kita”, ujar bapakku yang memang setiap harinya selalu sibuk mengangkat barang-barang untuk dijualnya di pasar. “ Iya bapak”, jawabku singkat. Ku langkahkan kakiku mendekatinya. “ Jangan lupa, cabe yang di karung paling besar itu juga dimasukkan”, tegas bapakku. “ Iya bapak”, jawabku sekali lagi dengan singkatnya seperti jawabanku yang mula tadi saat ia memanggilku. Di tengah kesibukanku mengangkat barang, Risna teman karibku muncul tanpa di undang pula,” Benar kata bapakmu itu Din, kalau gak segera diambil, rezekinya bakal diambil dulu sama ayam, alias orang lain yang lebih beruntung”.


“ Risna, kamu pagi-pagi gini kok sudah apel dirumahku? Cari mas Didin? Atau …”, tebakku.


“ Atau apa? Tadi itu aku gak sengaja lewat sini, habis dari mengantar ibu ke jalan Suromenggolo. Aku dengar sekali suara khas bapakmu, saat bilang tentang rezeki itu”, ujar Risna.


“Oh ya, nanti kita bahas lagi masalah rezeki di kelas ya, sekarang aku masih harus bantu mengangkat barang-barang ini. Kalau kamu masih tetap disini saja, mungkin sampai besok, kerjaan ini gak akan kelar”, kataku.


“Toyyib, fahimtu ya ukhti, sa adzhab (ok, aku faham, aku akan pergi kok), assalamu’alaikum”, katanya dengan nada menyerah.


“ Wa’alaikumsalam, ya ukthi”, jawabku.


Jam berlalu dari angka 6. Saatnya aku untuk melaksanakan kewajibanku dalam menuntut ilmu. Madrasah Aliyah II tempat yang akan ku kunjungi dan bahkan sampai setahun setengah lagi aku di tempat itu. Aku mulai merasakan oksigen sulit sekali rasanya untuk ku hirup. Padahal pagi ini, awan dan udara cenderung bersahabat. “ Mungkin karena aku kelelahan membantu bapak mengangkat barang-barang tadi pagi”, tebakku dalam hati kecil.


Sesampainya, pukul 06.40 aku telah sampai di halaman depan ruang guru. Aku merasakan sakit yang luar biasa pada dadaku. Sungguh aku sangat sulit sekali untuk bisa menghirup oksigen. Apalagi perjalananku dari rumah hingga madrasah bisa memakan waktu kurang lebih 15 menit dengan mengayuh sepeda ontel milik ayahku dulu.


Tak tahu apa yang telah terjadi padaku. Aku terbangun dari pejaman mataku. Kulihat jam menunjukkan pukul 11.00 siang. Sejenak aku bingung dengan apa yang telah terjadi padaku. Namun hal ini bukan hal baru untukku. Aku mulai sadar bahwa aku berada di rumah sakit. Aku bernafas dibantu dengan selang kecil di bawah hidung, dan juga terdapat beberapa infuse di tanganku.


“ Alhamdullilah, kau sudah sadar? Tadi aku panik sekali. Kamu jatuh di depan ruang guru. Pak Isyaq yang sudah bawa kamu kesini. Beliau langsung memberi tahuku bahwa kamu pingsan. Ya sudah aku langsung kesini, nungguin kamu. Kamu gak papa kan?”, jelas Risna panjang lebar.


“ Ih…kamu seperti seorang Ibu aja. Takut jika anaknya sakit. Iya, ini sudah agak mendingan. Kamu gak ikut pelajaran? Kan ini waktunya Bu Aisyah, Ta’lim muta’alim?”, ujarku padanya.


“ Ah..gak aja. Lagi BM. Bad Mood gitu”, katanya sambil meraihkan segelas air putih dimeja sebelah ku berbaring.


Ku duga bahwa dokter akan memeriksaku sebentar lagi. Pradugaku benar. 5 menit kemudian dokter menghampiriku. Kacamata yang tebal, dan jenggot mengesankan watak keras pada dirinya. Namun ternyata tidak. Bahkan sebaliknya, ia sangat santun sekali dalam berbicara dan bertingkah. Aku sudah diperbolehkan pulang, jika memang aku sudah kuat dan merasa tidak memerlukan bantuan tabung oksigen itu. Sejam kemudian, aku beranjak meninggalkan ruangan yang penuh dengan aroma obat-obatan. Dengan diantar pak Isyaq yang sedari tadi sudah di telfon Risna untuk membantuku pulang ke rumah nanti.


Sesampai dirumah, Ibu dan Bapak sudah panik menungguku. Ternyata mereka sudah tahu bahwa tadi aku pingsan dan sempat dilarikan kerumah sakit. Mereka ingin sekali menengokku kesana, namun mobil growong yang biasa dibawa bapak masih dipinjam sebentar oleh bang Alen untuk mengambil bawang ke desa seberang.


“ Gimana nduk, sudah merasa mendingan belum. Tidur di kamar Ibu aja, nanti Ibu pijitin. Kamarmu masih dibersihkan sama mas-mu”, pekik Ibuku dengan penuh kekhawatiran (sambil membopongku ke kamarnya).


“ Terima kasih banyak ya pak, sudah mau mengantarkan Dina sampai rumah. Maaf sekali jika keadaan rumah kami seperti ini. Haha…maklum, rakyat kecil”, kata Bapak.


“ Jangan merendah seperti itu pak. Biar miskin harta yang penting kaya hati. Saya merasakan kesederhanaan dan kekayaan di keluarga ini. Keluarga yang sejahtera. Pak, apa Dina sudah sering sakit seperti ini?”, Tanya pak Isyaq.


“ Iya, sudah 4 tahun ini dia mengidap asma. Namun akhir-akhir ini parah. Sering keluar masuk rumah sakit. Untung saja keluarga kami mendapat surat tanda miskin. Jadi biaya rumah sakit sudah ditanggung sama pemerintah. Dokter-dokter di rumah sakit itu sudah mengenal Dina. Ya, karena Dina sering kesana. Haha, ngamar disana. Obat-obatan sudah menjadi makanannya. Sekali ia telat minum obat, dia akan merasakan sesak yang luar biasa”, jelas Bapak lengkap seperti apa yang sudah di paparkan dokter Adi 4 bulan yang lalu.


“ Bapak yang sabar ya, sesungguhnya Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Saya yakin, keluarga bapak adalah orang yang kaya dan kuat. Di balik ini ada hikmahnya pak. Sudah ketentuan dari Gusti Allah apa yang telah menimpa keluarga sakinah Bapak. Pak, saya mohon pamit dulu, takut jika nanti anak-anak bingung mencari saya, karena saat ini ada ujian Hadist. Saya permisi dulu, pak, salam untuk Dina dan Ibu, assalamu’alaikum”, tukas pak Isyaq, yang aku pun juga bisa mendengar kata-katanya dengan jelas.


Hari berganti hari, hingga berganti bulan. Masih seperti kebiasaanku untuk konsumsi obat secara rutin. Dini hari ini ada yang mengganjal dalam benakku. Saat seperti biasanya aku terbangun dari tidur dan mimpi indahku, aku mengambil air wudlu yang sedikit sekali kupercikan karena hawa pun rasanya juga berbeda dengan malam-malam kemarin, sedikit agak menusuk ruas-ruas tulang badanku. Takut jika seandainya nanti asma datang melanda tubuh yang semakin mungil ini. Sesaat setelah ku hadapkan jiwaku pada yang telah menciptakanku, kulantukan syair-syair indah dari Al-qur’an. Tak terasa pipiku telah basah oleh air mata. Air mata yang menggenang di bawah mataku sepertinya berhasil membuat jejak. Jejak bengkak yang bisa membuatku kelihatan seperti empunya mata sipit.


Detik-detik berlalu, aku memilih tidak masuk sekolah hari ini. Karena aku ingin dirumah saja hari ini. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku mengangkat barang-barang untuk dibawa ke pasar. Namun hanya sebentar saja aku membantu bapak. Karena rasa sesak sudah dahulu menghampiriku. Aku memilih untuk istirahat sejenak di ruang depan tv. Aku tertidur. Bahkan pulas. Aku bermimpi, aku berada di tempat seperti di desa. Penuh dengan bunga-bunnga bermekaran yang indah sekali. Aku melihat banyak sekali kupu-kupu berwarna-warni. Namun disitu, kebingungan datang padaku,” Mengapa disini sepi?”. Aku merasa sangat bahagia sekali di tempat yang ku sebut desa ini. Sangat luas. Maha luas.


“Din, bangun ! ayo sholat dhuhur. Ada teman-temanmu disini”, ujar mas Didin.


Aku terperanjat dari tidurku. Ku lihat di sekelilingku sudah banyak teman madrasahku. Aku bingung mengapa mereka ada di rumahku? Dan siapa yang membawa mereka kesini? Apa tujuannya? Ternyata aku sudah dua hari tertidur. Rasanya masih sejam yang lalu. Namun saat ku buka mata, yang kurasakan masih sama, hawa dingin yang menusuk tulang, dan awan biru tersenyum padaku.


“ Lho…..kalian disini? Kok tidak sekolah?”, tanyaku.


“ Din, kami jenguk kamu. Kata Risna kamu sakit lagi. Sudah dua hari tiada kabarmu. Entah angin mana yang membawa hati kami untuk menjengukmu”, ujar Tofik mewakili teman-teman lain. Kurang lebih ada 40an temanku yang menjengukku. Ada yang mengganjal di benakku. Rasanya, sakit yang selama ini mengurungku, kini seperti tak kurasakan lagi. Hilang, lepas dan bebas.


“ Din, ini pialamu”, tukas Tofik.


“ Piala apa?”, tanyaku bingung.


“Piala kejuaraan. Kamu memenangkan lomba debat Bahasa Arab mengenai ringkasan surat al-Fajr, dan ini pialanya. Masa kamu sudah lupa? Perjuanganmu selama ini tidak sia-sia, kawanku. Aku bangga berteman denganmu. Aku dan teman-teman berharap kamu bangkit dari sakitmu. Kamu pasti bisa sembuh Din. Kita semua sayang kamu, Din. Dan tak pernah terlintas di benak jika harus kehilanganmu”, jawab Tofik.


“ Ahhahahaha…… kamu bicara apa sih, aku kan gak pergi kemana-mana. Jadi tidak mungkin aku hilang.. kan aku sekarang disini. Terima kasih ya, kalian sungguh baik sekali padaku. Aku, belum bisa membalas kebaikan kalian. Biar Allah saja nanti yang membalasnya. Oya, bagaimanana keadaan pak Jarot? Beliau masih di rawat di rumah sakit?”, aku angkat bicara.


“ Alhamdulilah, beliau sudah sembuh. Sungguh luar biasa perjuangannya untuk sembuh. Ikhtiar dan do’anya tiada henti. Maka Allah mengabulkan segala do’anya untuk bisa segera sembuh dari penyakit batu ginjal itu. Sekarang, banyak murid-murid yang suka padanya”, ujar Tofik.


“ Kok bisa, bukankah beliau terkenal galak?”, tanyaku penuh dengan penasaran.


“ Jenggotnya sudah dikupas habis”, jawab Tofik


“ Hahahahahhahahah”, tawa teman-teman menggelegar dirumahku.


Sesaat kemudian, di tengah gelagak tawa mereka entah apa yang menyuruhku melantunkan sebuah lagu :


Bukankah hati kita telah lama menyatu


Dalam tali kisah persahabatan Illahi


Genggam erat tangan kita terakhir kalinya


Hapus air mata meski kita kan terpisah


Selamat jalan teman


Tetaplah berjuang semoga kita bertemu kembali


Kenang masa indah kita seindah hari ini


Sesaat kudengar lantunan ayat :


$pkçJ­ƒr'¯»tƒ ß§øÿ¨Z9$# èp¨ZÍ´yJôÜßJø9$# ÇËÐÈ ûÓÉëÅ_ö$# 4n<Î) Å7În/u ZpuŠÅÊ#u Zp¨ŠÅÊó£D ÇËÑÈ Í?ä{÷Š$$sù Îû Ï»t6Ïã ÇËÒÈ Í?ä{÷Š$#ur ÓÉL¨Zy_ ÇÌÉÈ


27. Hai jiwa yang tenang.


28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.


29. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,


30. Masuklah ke dalam syurga-Ku


Sejuk, tenang, damai, dan……………… gelap.












my pet


www.spacezapper.com