.

Glitter Text
Make your own Glitter Graphics

selamat datang.........

semoga Allah selalu memudahakn jalan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh

mungkin ini adalah saya

Foto saya
asalamu'alaikum wr.wb, dalam naungan Ridho Illahi semoga hidup penuh kedamaian walau didahului oleh permusuhan.. salam ukhuwah islamiyah

Aku adalah seorang mahasiswa di sebuah universitas yang cukup ternama di pulau Jawa.  Kini usiaku menginjak 20 tahun. Aku anak Tasikmalaya yang merantau ke pualu Jawa bagian timur. Aku adalah salah satunya  mahasiswa yang terbalut cinta. Aku menaruh hati pada seseorang yang mungkin cukup terkenal di kampusku. Begitulah ku memanggil tempat untuk ku menuntut dan menggali ilmu saat ini. Dia adalah Mahfudzin. Nama yang cukup mudah untuk diingat dan dikenal  orang lain. Tentunya juga aku. Dia memang tak tampan dibanding teman-teman yang lain. Tapi dia mampu mencuri hatiku yang saat itu  bisa dibilang gundah gulana. Perlu ku mengingat lagi, bukan baru saja aku menaruh hati padanya. Namun sejak dari kelas 1 Madrasah di pesantren aku telah memiliki rasa untuknya. Bukan dari bertemu, namun dari mimpi saat aku hendak pergi ke pesantren. Kira-kira kurang lebih 7 tahun yang  lalu.
            Pagi yang berselimutkan embun saat itu ku sempatkan diri tuk menengok ke meja dimana ia biasanya tempati itu. Aku berkata dalam hati, “Aina huwa, ?kok tidak seperti biasanya dia belum terlihat?”, begitulah ucapku dalam hati. Sejenak ku berfikir, dalam lamunanku, ku dibangunkan Jihan temanku. Teman yang selalu ada untukku saat suka dan dukaku. Namun ku belum bisa membalas banyak semua kebaikannya. Huuh….biar Allah saja nanti yang membalas semua kebaikannya, dengan surga haqiqi-Nya. “Hayoo…mikirin Mahpud ya?”. Ya, memang begitulah nama akrab Mahfudzin biasanya di panggil oleh teman-teman sekampus. Memang, apa-apa yang sedang kurasakan kuceritakan pada sahabat baikku itu. Ku akui aku menaruh hati pada sesosok Mahpud. Tak ubahnya teman-teman yang lain yang juga memiliki perasaan yang sama walau hanya sekedar nge-fans.
            Ketika ku berada dalam kepenatan di ruangan, aku memutuskan untuk sekedar refresh sejenak otakku diluar ruangan. Aku langkahkan kakiku untuk  pergi ke kantin sekolah yang letaknya tak jauh dari ruanganku, yang memiliki penjaga sejumlah 6 orang. Tak kusangka ku dapati ia, Mahpud yang kucari-cari berada  di ruang UKS yang ukuranya kurang lebih 4x4 meter itu terbaring sakit tak berdaya. Kulirik wajahnya pucat pasi. Dia berselimut angin. Ku ingin mendekatinya. Namun….itu bukan yang diajarkan padaku. Aku hanya boleh mencintainya, bukan menyentuhnya kecuali, ia adalah suamiku. Ku kembali saja di ruanganku dengan perasaan bingung penuh pertanyaan yang bertubi-tubi.
            Lonceng berdering. Tanda seluruh materi yang diajarkan para dosen kepada para mahasiswa telah usai. Aku dan temanku Jihan bergegas keluar dari ruangan untuk menengoknya lagi. Namun tak kudapati dia di ruangan itu. “Ya ukhti, kok gak ada? Yakin, tadi ana melihatnya disini”, tanyaku pada Jihan. Jihan sendiri menggeleng kepala tanda tidak tahu-menahu soal ketidak adaan Mahpud. Ku coba untuk tenangkan hati dan fikiranku bahwa dia akan baik-baik saja. Ku hilangkan semua rasa gundahku, sesaat aku berdiri di depan daun pintu UKS itu.
            Tiba-tiba salah satu temannya lewat.  Walau awalnya ku tak pernah berani bercakap-cakap dengan seorang pria, namun kali ini ku beranikan diri untuk bertanya akan keberadaan Mahpud. “Assalamualaikum Jery, ana ingin bertanya, kira-kira antum tahu tidak keberadaan teman antum yang sedari tadi pagi terbaring di UKS ini?”, tanyaku perlahan, karena takut salah dan kasar ataupun menyinggung hatinya dalam pengucapanku. Ya, memang inilah aku. Zahra yang  yang mungkin bisa dibilang kuper atau apalah yang sejenisnya.
“ Wa’alaikumsalam…o…. Mahpud to?! La yo, aku dari tadi juga nyari-nyari deweke, tapi yo gak ketemu-ketemu, aku yo bingung”, ucap Jery dengan logat yang penuh Jawanya itu. Jery adalah keturunan orang Jawa dan Sunda. Maka tak salah lagi jika cara dia berbicara pun logat itu masih tertanam tegar di lisannya. “Lo…kok you malah gak tahu sih… bukannya you best friendnya?”, tegur Jihan dengan cara dia berbicara agak kebarat-baratan itu.  Karena Jihan pernah ingin berkunjung ke Negara Amerika. Namun sampai sekarang belum kesampaian juga. Hahahahahah ,maklum,,.
            Ketika semua terdiam, salah satu teman yang memiliki julukan ”Bintang Kampus” universitas berteriak, ”Ada yang mau bunuh diri!”. Dengan sangat respon, aku, Jihan dan Jery lari  mendekati sumber suara. Banyak mahasiswa yang sudah berjubelan di halaman belakang ruang para dosen yang biasanya digunakan untuk latihan basket. Yang letaknya dari ruang UKS kurang lebih 100 meter. Di sebelah halaman terdapat sebuah tiang tower yang cukup tinggi, yang ujungnya berwarna merah keputih-putihan. Semua mata memandang ke arah puncak tower. Dengan penuh keheranan aku, Jihan dan Jery memfokuskan pandangan ke puncak tower. Aku yang memang dari kecil memakai kacamata, ya…cukup jelas untuk bisa melihat kearah yang agak jauh. Ternyata….ternyata Mahpudlah yang berada di atas tower itu. Mahpud alias Mahfudzin yang ku nantikan kehadirannya di hatiku. Memang tak salah lagi bahwa itu adalah Mahpud. Aku kembali di bayang-bayangi  pertanyaan yang membuatku sedih dan bingung kembali. “Ya Allah.. apa yang membuat dia melakukan hal sekeji ini pada dirinya sendiri? Mengapa ia menyakiti dirinya sendiri?”.
            Aku langsung mengambil microphone di ruang dosen. Lalu ku lantunkan sebuah syair puisi untuknya, berharap agar dia turun dari tower mengerikan itu di dalam kerumunan banyak mahasiswa. Walaupun dengan rasa gemetar dan tak tenang serta rasa malu pada teman- teman, aku mencoba optimis bahwa aku bisa meyakinkanya bahwa apa yang dilakukanya itu tidaklah benar. Ku ambil diary kecilku yang selalu menemaniku yang ku letakkan di dalam tas. Lalu ku bacakan untuknya puisi yang memang dulu inigin ku sampaikan padanya, saat 12 hari setelah aku masuk ke pesantren.
Jangan menghilangkan aku dari senyum lembutku
Karena aku sudah berdebat dengan cuaca untuk hidup dan mati
Surga yang bergetar ketika aku melihat wajah yang
Dan membuat aku  optimis bahwa akan datang hari
Penuh tawa dan kemudian penderitaanku akan menghilang
Jadi jangan ambil dariku senyum lembut
Aku berjanji padamu bahwa aku tak akan mengganggumu
Tapi membuatku memilih untuk hidup daripada mati
Dan biarkan aku berharap senyum khusus
Untuk mengangkatku saat aku merasa tertekan
Saat aku sakit jiwa adalah melarikan diri
Kesedihan dan kesepian itu jadi saksi
Tuhan…aku berdo’a, dan
Kebahagiaan pasti datang mengunjungiku suatu hari
Dan permohonan dalam nama Tuhan
Tidak mengambil senyum lembut dariku
Suram….tempat kumelihat
Penuh kegelapan…
            Kemudian sesaat, aku tak sadarkan diri.  Aku tak tahu apa yang menimpa diriku. Ketika ku membuka 2 katup mataku yang kulihat adalah seorang pria yang terbaring di sampingku. Lalu ku berkata, ”Astaghfirullahal ‘adzim, ma ta’mal huna?( apa yang kamu lakukan disini?)”, tanyaku pada pria yang memiliki nama lengkap Mahfudzin Khoirul Alim yang sama-sama aku dengannya mengambil jurusan bidang materi Keagamaan khususnya Bahasa Arab dalam universitas ini. “La tahsyin ya ukhti”, tegurnya, yang artinya “Janganlah khawatir”.
            Sesaat, dia menceritakan padaku tentang apa yang sudah terjadi padaku. “Saat antun lantunkan puisi tadi, sungguh ana menangis menyesali akan apa yang telah ana perbuat. Ana sangat bodoh sekali melakukan hal yang tak disukai Allah ini. Jiwa ini seperti hidup kembali, setelah sekian lama runtuh bagai puing-puing gempa di atas bumi ini. Apakah kamu ingin membantu ana? Keluar dari masalah yang telah menghimpit?”.
Lalu dengan tenang dan halus ku mencoba menjawabnya, ”Afwan, jika sebelumnya ana lancang melakukan hal seperti ini yang mungkin belum terlintas di benak antum. Ana ….”, ucapku padanya walau aku masih merasa belum kuat untuk berkata padanya.
 ”Kamu tak lancang melakukan ini. Malah ana ingin berterima kasih pada antun karena telah  membantu menghidupkan jiwa ana kembali, jiwa yang dulu pernah terbenam luka . Oh ya Zahra, tidak terasa ya kita dah hampir 7 tahun memegang ilmu yang sama, bersama, namun ana tidak begitu mengenalmu. Ana inget sekali saat pertama kita bertemu, kita seperti anak kecil saja, masih suka olok-olokan, dan suatu hari tanpa ana sadari, kamu memberiku isyarat untuk nama ana terpahat dihatimu. Iya kan, masih ingat pastinya. Ternyata puisi yang kamu buat mampu merubah jalan fikiran ana yang awalnya ingin bunuh diri malah sekarang sangat benci sekali dengan kata “Bunuh diri”. Gimana? Kamu sudah merasa baikkan kan?”, tukas Mahpud panjang lebar. Yang biasanya pada pelajaran Matematika,  panjang dikali lebar adalah luas segiempat .
            Jihan datang membuyarkan percakapanku dengan Mahpud. Jihan mengajakku untuk cek ke dokter tentang kesehatanku saat ini. Untunglah…
            2 hari kemudian, saat aku jalan-jalan mengelilingi kampusku, ku lihat dia mengumbar senyum padaku. Ku balas senyumnya walau hanya secuil.
“Zahra, kata Jihan kemarin kamu menangis? Ada apa? there’s some problems?”, tanyanya saat aku sedang melanjutkan menulis novelku yang berjudul “ Saatnya aku kembali” ini.
“Gak kok, Cuma masalah kecil”, tukasku dengan tegas.
            Hari-hari berlalu seperti biasanya.  Dan seperti biasanya, aku menggoreskan tinta pena warna biru ber-glitter. Dan sesaat aku temukan imajinasiku yang pernah lenyap kini hadir lagi tanpa satu undanganpun. Ku teringat kisah setahun yang lalu saat aku melantunkan sebuah syair untuk yang ingin bunuh diri, Mahpud. Ku teringat akannya yang hendak bunuh diri entah karena apa. Karena dia tak pernah mau membahas soal itu lagi. Namun aku masih ingin mengetahuinya.
“Jer, antum masih ingat sama kisahnya Mahpud yang setahun lalu pernah ingin bunuh diri? Antum tahu gak masalahnya apa?”, tanyaku penuh keheranan.
“Wah, kayaknya aku tahu. Tapi lebih kayaknya, aku gak tahu deh”, jawabnya dengan enteng.
“Gimana sih antum ini, pastinya antum tahu donk,.ya….. mbok menowo?!”, tanyaku lagi yang sedikit-sedikit mengikuti logat Jawanya yang medok itu.
“Apa? Mbok menowo? Dia sudah pulang balik kesini to.? Bareng sama Pak menowo gak? Wah….ana mau dong minta tanda tangannya… pasti seru ..”
“Heh.. antum ngomong apaan sih? Malah bercanda.. ya udahlah ana mau pulang dulu”, gerutuku sambil melangkah pergi.
“Wokay… be carefully ya ukhti”, jawabnya dengan mengacungkan jempolnya.
            Aku melangkah pergi meninggalkan Jery menyusuri jalan raya yang penuh polusi. Aku memilih jalan kaki daripada naik angkutan umum. Ya hitung-hitung untuk menghemat uang. Toh, kost ku tidak jauh dari kampus. Tak ku sangka, aku bertemu sang pengisi ruang hatiku, Mahpud.
“Zahra…awas…”, teriaknya padaku.
Ku tengok  kearah suara yang memanggilku. Naasnya, aku tertabrak truk yang mengangkut kayu-kayu bakar dari hutan yang katanya hendak  dikirim ke Bandung. Aku terlindas roda truk, tepatnya tangan kananku. Aku tak lagi sadarkan diri. Yang ku lihat  saat itu terakhir kalinya adalah wajah Mahpud yang setengah khawatir. Dan kekhawatirannya itu berbuah hasil. Yaitu aku ditabrak truk muatan itu.
            8 jam kemudian aku baru sadarkan diri. Kulihat sekelilingku. Jam dinding yang berdetak menunjukan pukul 1 malam. Mahpud yang tertidur di sofa ber-alaskan tas ranselnya, dan mengenakan jacket coklat kesukaanya. Aku pandangi dia terus-menerus. Mencoba menangkap bayangannya dan memahatkannya di jurang hati. Tak terasa perlahan air mataku jatuh menetes, mengucur bagai keringat. Saat ingin ku menggerakkan tangan kananku untuk mengelap  air mataku yang masih tersisa di pipi, aku terkejut bukan kepalang, “Aghhhhh………………”, teriakku yang membuat Mahpud terbangun dari mimpi panjangnya.
“YaAllah, kamu kenapa Zahra?”, kagetnya sambil menghampiri dipan kasurku.
“Mahpud, tangan kanan ku kemana? Apa yang telah terjadi? Jelaskan..! Ayo jelaskan….!”, teriakku sekali lagi.
“Tenang dulu Zahra, tanganmu…….tanganmu….”
“Iya, tanganku kemana”
“Tangan kananmu.. di… diamputasi..”, terbata – bata ia menjawabnya.
“Apa? Di amputasi? Kenapa?”, teriakku sehingga dokter pun datang ke kamar rawat itu. Ia menjelaskan semuanya. “Zahra, anda harus tenang dulu. Tangan anda di amputasi karena tulang di organ tangan anda telah hancur lemur yang jika tidak di amputasi akan mengganggu proses system gerak anda”, tegas Dokter berkacamata itu.
“Mahpud, kenapa ini semua terjadi padaku? Kenapa? “, berlinanglah aku dengan air mata.
“Zahra, ana tahu kamu wanita yang tegar. Ana yakin kamu bisa menjalani hari-hari yang akan datang sebagaimana biasanya. Jangan sedih sahabatku… ada ana disini”, hiburnya untuk meringankan beban sakitku. Karena saat itu hanya dia yang mengetahui langsung peristiwa penginjakan roda truk pada diriku.
“Syukron, akhi. Antum sudah membuat ana kembali bersemangat lagi”, terima kasihku padanya.
Dia membantuku menyeka sisa air mataku yang tertinggal di wajahku, karena aku juga tahu, bahwa tangan kiriku masih di infuse. Sungguh Ya Rabb, sungguh lembut sentuhannya. Aku bagai bayi yang baru saja dilahirkan yang mendapatkan kasih sayang  yang begitu besar dari sentuhan seorang ibu. Aku merasa seperti hidup kembali, setelah beberapa menit lalu aku merasa menyerah untuk hidup. Yang lebih dekat dengan keadaan mati.
“Anggap saja ini balas budi ana setahun lalu saat ana juga ingin menyerah untuk hidup. Dan kamu datang membawakan kedamaian dalam hati ana”, katanya sambil masih membantuku mengelap air mata dengan sapu tangan merah miliknya. Kesedihan itu cepat sekali berubah dengan tawa. Dia mampu membuatku semangat lagi. Tidak menyerah. Tidak malu  walau hanya memiliki satu tangan saja. Dia pun menyuruhku untuk memasukkan sejumlah butiran nasi agar perutku tidak kosong, dan untuk minum obat. Aku kembali tidur setelah ia menyingkapkan selimut di tubuhku. Allahu akbar. Aku sangat bahagia sekali. Karena di tengah-tengah kesedihanku, ada yang menghiburku. Dia pun kembali ke mimpinya, tidur lagi. Ku coba untuk sedikit menggerakkan tangan kiriku untuk takbir. Ku ingin lakukan sholat jama’ magrib dan isya’ yang akan ku lanjutkan dengan solat tahajjud. “Walau kamu dalam keadaan berbaring, janganlah lupa akan kewajibanmu untuk sholat 5 waktu. Karena sholatmulah yang pertama kali akan dihisab di Arsy-Nya kelak”, begitulah yang kuingat cuplikan ceramah Ustad Khoir dulu saat di pesantren sebagai nasehat utamanya untuk kami semua setelah menjadi alumni pesantren. Dan yang ku bisa saat ini adalah sholat menggunakan isyarat mata. Karena sungguh aku tak kuat walau hanya mengangkat tanganku. Air mata tak jenuh menetes kembali. Bahkan kali ini mengucur deras.
            Pagi yang berselimutkan embun membangunkanku dalam tidur panjangku. Ku dapati Mahpud tak lagi terbaring tidur di sofa, tapi di dekatku. Saat kubuka katup mataku, dia sudah tersenyum padaku, padahal jam dinding masih menunjukan pukul 7 pagi. “Astaghfirullah, ana telat solat subuh”, kataku pada diri sendiri.
“Bagaimana? Sudah agak mendingan?”, tanyanya memulai pembicaraan.
“Alhamdulillah, ana rasanya sudah agak mendingan. Antum gak siap-siap ke kampus?”, jawabku yang beserta pertanyaan.
“Gak ah, ana mau disini saja. Jagain kamu. Toh dosennya hari ini galak. Jadi gak mood deh”.
“Kok antum gitu? Kan ana disini sudah ada perawat yang akan jaga ana. Jadi tidak perlu khawatir. Yakinlah”.
“Nih, ayo makan dulu”, ajaknya. Dia memberiku sesuap nasi dengan lembut sekali. Penuh perhatian terhadapku. Ku berikan saja senyuman termanisku hanya untuk dia dan menjadi yang pertama kalinya.
            Dialah yang menemani hari-hariku karena sahabat baikku Jihan sedang ada tugas di luar kota, dan aku pun juga jauh dari keluarga. Dia juga yang memberiku semangat bahwa “Tak ada kata menyerah untuk seorang wanita yang tegar”.
Sampai pada suatu hari, ia mulai menyibakkan pertanyaan. Tak pernah ku sangka selama aku beberapa hari di rumah sakit, ia yang membawakan tasku. Dan ia telah membaca semua diaryku dari A hingga Z. Dari awal hingga akhir. Awal ku mencintainya 7 tahun yang lalu yang melalui mimpi hingga saat ini bahkan detik ini. Dia sendiri yang bercerita kepadaku. “ Zahra, ana sudah tahu semuanya tentangmu. Kamu tidak perlu malu untuk mengakuinya. Memang, dulu ana anggap itu hanya bercanda. Dan ternyata sampai saat ini pun kamu tak lelah untuk menungguku. Zahra, maafkan ana. Ana tidak pernah mau tahu mengerti isi hatimu dulu. Ana bahkan sering melukai hatimu dengan bercemburukan santriwati-santriwati dulu yang lainnya. Namun itu semua sudah menjadi masa lalu. Dan ana tak mau hidup di dalamnya lagi. Zahra, izinkan ana untuk menjadi Imammu. Dan izinkan ana untuk setiap kali mengecup keningmu dan mengatakan bahwa aku mencintaimu”, katanya padaku yang dengan suara desah nafas yang menyejukkan kalbu. Tak terasa ku mengucurkan lagi air mata ini. Tak bisa ku bendung rasa antara malu dan bahagia ini.
            Menginjak usia ke 22 tahun, aku syah dijadikannya pendamping hidup. Antara haru dan bahagia ku ucapkan padanya, “Musuhku dahulu telah menjadi sahabatku kemarin dan sahabatku kemarin telah menjadi kekasihku sekarang”.
“Kekasihku Zahra, ini cincin untukmu yang akan ku sarungkan sendiri di jari manismu, dan kalung ini akan ku letakkan sendiri di lehermu sebagai ganti gelang untuk tangan kananmu dan mengatakannya sendiri padamu bahwa aku mencintaimu dalam sujudku pada-Nya”.


_THE END_

my pet


www.spacezapper.com