When I am down and, oh my soul, so weary;
When troubles come and my heart burdened be;
Then, I am still and wait here in the silence,
Until you come and sit awhile with me.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.
There is no life - no life without its hunger;
Each restless heart beats so imperfectly;
But when you come and I am filled with wonder,
Sometimes, I think I glimpse eternity.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.
You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.
You raise me up... To more than I can be.
.
Make your own Glitter Graphics
selamat datang.........
mungkin ini adalah saya
- yunda
- asalamu'alaikum wr.wb, dalam naungan Ridho Illahi semoga hidup penuh kedamaian walau didahului oleh permusuhan.. salam ukhuwah islamiyah
you raise me up
BUTA MALAM, MALAM MEMBUTAKAN
Suasana malam hari, di sebuah ruang keluarga terdapat satu meja pendek, dan beberapa kursi untuk duduk. Di bagian kanan terdapat pintu keluar. Sementara di kiri dalam juga terdapat pintu ke ruang dalam. Di dinding belakang terdapat foto keluarga.
Suasana hening, ayah mondar-mandir. Sesekali melihat ke pintu luar. Seorang ibu yang sudah agak tua duduk, tampak kesedihan dan kebingungan di wajahnya.
Ibu : kesedihanmu juga kesedihanku
Ayah : apa maksudmu ,Bu?
Ibu : iya Yah,hari terakhir ini, Ibu selalu dapatkan asam darimu
Ayah : ibu, maksudmu apa? Jangan buat aku mencoba berfikir lagi! ( sambil mendekat ke arah wajah ibu)
Ibu : tanpa ayah menjelaskan ternyata aku sudah tau sendiri dari jawaban asam mu itu ( sambil tertawa kecil pada ayah)
Ayah pergi meninggalkan ibu,tanpa basa-basi, namun dengan fikiran yang lebih mengacau atas pernyataan ibu.
Datanglah anaknya, ANA dan HANA
Ana : ibu kenapa ketawa- ketawa sendiri?( dengan enaknya sendiri Hana metingkrang di atas kursi dan kakinya pun ikut ke atas kursi.
Hana : halah, biasa . Ibu itu kan sudah agak mulai....
Ibu : mulai apa? Mulai gila. Kamu itu yang gila. Dasar! Anak gak tau di untung! Kalo saja kamu bukan anakku, pasti kamu sudah tak cincang. Lihat saja, mana ada seorang anak yang berani ngatain ibunya gila, kecuali anak gak sopan kayak kamu itu? Ibu peringatkan lagi. Jaga sopan santunmu. Lihat! Kamu harus mencontoh perilaku adikmu ini. Anaknya rajin, sholehah, sopan, gak kayak kamu, yang sukanya Cuma berfoya-foya.
Hana : terus saja ibu bela-in Ana. Aku gak peduli. ( sambil melangkah pergi)
Ibu : ana, jangan berubah seperti kakakmu ya. Ibu sudah cukup bangga akan semua yang kamu perbuat.
Muncullah Hana untuk meminta uang…
Hana : bu, aku minta uang buat bayar buku, sekarang!
Ibu : apa kamu dah buta? Ini kan udah malam. Masa kamu mau bayar buku sekarang? O....ibu tahu, pasti kamu mau keluar sama laki-laki bajingan itu kan?
Hana : ibu ngomong apa sih? Bilang ja kalau gak mau ngasih uang.( melangkah pergi lagi )
Ayah : ada apa sih bu, dari tadi ribut terus. ( Ana melangkah pergi ke kamar saat ayahnya menanyai ibu)
Ibu : itu lo Yah, si Hana. Makin hari kelakuannya makin kurang ajar. Masa tadi dia mau bilang kalau ibu sudah gila?
Ayah : ( duduk ke kursi ) sebenarnya akhir hari ini ayah juga memikirkan nasib kita.
Ibu : maksud ayah?( sambil mendekati ayah)
Ayah : ya iya bu, . fikir saja sendiri. Ini PR buat ibu. Karena ibu tadi juga memberi ayah PR.
Tok-tok-tok.... pintu terketuk dengan keras namun bijak
Ibu melangkah keluar membukakan pintu.
Polisi : selamat malam . Betul dengan orang tuanya Hana?
Ibu : iya benar, ada apa pak? Ada yang bisa saya bantu?
Polisi : ini surat keterangan penahanan anak anda, Hana.
( polisi tersebut melangkah pergi )
Ibu : ini Yah. Surat untuk Hana..
Ayah : surat apa? Surat cinta?
Ibu : entahlah, dari polisi.
Ayah : polisi?
Ibu bergegas tidur tidak mau mengerti soal Hana anaknya.
Ayah : lho? Ibu mau kemana?
Ibu : mau tidur dulu. Aku sudah capek mengurusi anak seperti dia.
Ayah : ( membaca nya lalu berteriak) apa??? Tak pernah ku sangka dia akan sekeji ini.
Hana keluar dari kamar sambil mengucek-ucek matanya.
Hana : ada apa sih Yah, gak tahu apa, kalo udah jam 11 malam. Malu ma tetangga kalo ayah teriak-teriak gak jelas kayak gitu.
Ayah : plak( tamparan ) kamu ini yang buat ayah sama ibu selalu kesal. Kamu tahu ini apa? Dan kamu tahu kenapa ayah tampar kamu?
Hana : (menggeleng-geleng sambil memegangi pipinya yang mendadak merah karena tamparan namun tak merasa bersalah)
Ayah : ni, fikir saja pakai otakmu yang sudah penuh dengan setan.! ( surat itu di lemparkannya ke wajah Hana)
Hana : apa? Aku akan di tangkap polisi? Wah dasar,,,
Aduh…. Gimana ini? Apa aku kabur aja ya?
Tak terasa ternyata adik-adiknya sedari tadi memperhatikannya.
Ani : jangan lari dari masalah kakakku. Itu sama saja kakak pecundang. ( kata Ani dengan sifat yang begitu bijak)
Hana : anak kecil tahu apa?
Ani : kak, bukankah kakak yang masih seperti anak kecil? Mau main petak umpet kok sama polisi?
Hana : diam kamu!! Pergi kekamar sana!
Ana : benar kak. Ani benar.
Hana : benar apanya? O… ya..memang benar. Kalau dia itu masih anak kecil
Ana :bukan itu kak
Hana : halah kamu itu sama saja dengan yang lainnya. Udah sana tidur.
Ana : kak, tapi kakak itu salah
Hana : salah apa? Kalau salah katakan. Jangan bisanya Cuma nasehatin saja.
Ana : ( duduk )kak, Ana sudah tahu masalah kakak. Semenjak di tinggal ayah kandung kita, kakak seperti ini. Suka keluar malam sama laki-laki gak jelas.
Hana : lah,, kamu itu juga masih kecil. Tahu apa?
Ana : kak, dengerin Ana dulu. Ana belum selesai ngomong. Ingat gak, dulu ayah pernah memberi amanah ke kakak untuk tidak membuat ayah dan ibu sedih.Tapi sekarang? Lihat kelakuan kakak?! Apa kakak pernah melihat ibu tersenyum karena ulah kakak setelah kepergian ayah? Iya kak? Ayo jawab.!
Hana duduk terlemas di samping ana dan membelakanginya.
Hana : selama ini, aku Cuma inginkan satu. Menyusul ayah disana. Kamu tahu, kalau ayah rela mati demi kita?( dengan nada rendah )
Ana : rela mati? Kenapa harus rela mati? Bukannya mati sudah ada garisnya sendiri?
Hana : ah… sudah. Aku tak mau mengingatnya lagi. Sana kamu pergi tidur.
Ana dan Hana pergi ke kamar masing-masing. Memang. Setiap malam, keluarga ini pasti begadang karena selalu saja ada masalah yang datang di malam hari.
Keluarlah ibu sambil terisak tangis.
Ani : ibu, kenapa kok menangis? Ibu mimpi buruk?
Ibu : tidak nak, ibu Cuma berfikir
Ani : berfikir apa? Kok sampai menangis?
Ibu : kakakmu. Sepertinya ibu sudah tidak bisa menjaga kakakmu Hana.
Ani : kenapa sampai seperti itu bu?
Ibu : nak, kakakmu ini sudah hampir membuat ibu kehilangan seorang suami lagi. Dan ibu tidak mau itu. Ayahmu itu sayang sekali sama kalian, namun dia tidak pernah mau membalas semua jasa ayahmu.
Ani : apa sih, bu maksudnya. Ani semakin gak jelas dengan ucapan ibu( malah kembali ke kamar )
Sejenak kemudian, ayah keluar dengan membawa sebuah tas yang mungkin cukup terisi.
Ibu : ayah hendak kemana malam buta seperti ini?
Ayah : entahlah bu, ayah sendiri juga mungkin tanpa tujuan. Rasanya kepala ini ingin muntahkan sebanyak mungkin saraf – saraf nya.
Ibu : ayah ngomong apa sih..
Ayah : (duduk di atas lantai nggeletak ) entah bu, aku juga udah gak tahu harus berfikir apa dan bagaimana lagi. Ayah sudah tak tahan lagi dengan tingkah anakmu itu. Terlalu menyakitkan.
(sambil beranjak pergi meninggalkan keluarga itu sambil membawa tas nya)
Ibu hanya membiarkannya
Ana : ada apa bu, kok seperti sedih?
Ibu : ayahmu pergi lagi dan juga meninggalkan lagi.
Ana : pergi kemana?
Ibu : sepertinya pergi mencari untuk mati.
Ana : kenapa ibu berkata seperti itu?
Ibu : karena dirinya sendiri yang sudah tak betah hidup disini malam ini.
Tiba-tiba Hana muncul lagi
Hana : maksudmu karena aku?
Ibu : jika tahu kenapa harus tahu juga jawabannya. Jawabannya ada di pertanyaanmu.( dengan nada marah dan mengejek )
Hana : gak usah berbelit Bu, hahahaha…….tapi aku malah senang kalau akhirnya laki-laki tak berguna itu gak ada disini.
Ibu : dan aku akan lebih senang lagi jika suatu saat nanti kamu segera menyusulnya, pergi dari sini.
“brak.....bruk....brukk....”
^^ THE END ^^
for the rest of my life
I praise Allah for sending me you my love
You found me home and sail with me
And I`m here with you
Now let me let you know
You`ve opened my heart
I was always thinking that love was wrong
But everything was changed when you came along
OOOOO
And theres a couple words I want to say
Chorus:
For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you.loving you
For the rest of my life
Through days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I…I`ll be there for you
I know that deep in my heart
I feel so blessed when I think of you
And I ask Allah to bless all we do
You`re my wife and my friend and my strength
And I pray we`re together in jannah
Now I find myself so strong
Everything changed when you came along
OOOO
And theres a couple word I want to say
*Repeat Chorus
I know that deep in my heart now that you`re here
Infront of me I strongly feel love
And I have no doubt
And I`m singing loud that I`ll love you eternally
Repeat Chorus
I know that deep in my heart..
for the rest of my life
I praise Allah for sending me you my love
You found me home and sail with me
And I`m here with you
Now let me let you know
You`ve opened my heart
I was always thinking that love was wrong
But everything was changed when you came along
OOOOO
And theres a couple words I want to say
Chorus:
For the rest of my life
I`ll be with you
I`ll stay by your side honest and true
Till the end of my time
I`ll be loving you.loving you
For the rest of my life
Through days and night
I`ll thank Allah for open my eyes
Now and forever I…I`ll be there for you
I know that deep in my heart
I feel so blessed when I think of you
And I ask Allah to bless all we do
You`re my wife and my friend and my strength
And I pray we`re together in jannah
Now I find myself so strong
Everything changed when you came along
OOOO
And theres a couple word I want to say
*Repeat Chorus
I know that deep in my heart now that you`re here
Infront of me I strongly feel love
And I have no doubt
And I`m singing loud that I`ll love you eternally
Repeat Chorus
I know that deep in my heart..
indahnya perbedaan
Pemain :
1. Dewi Retno : Mbah Cikrak
2. Diah Arum : Monalisa Ratu Hiu dari Pantai Sebrang
3. Didin : Bang yai
4. Dwi Yunda : Tumbu / Nida
5. Ike Ristyana : Mayang Sari Cengceremen
6. Lina Septyorini : Mbok yem
7. Rara Atika : Bu Wati Trigonometri
Narator : Ima Rizeki
Tumbu :“Maaf ya wanita cantik, aku sedang mencari uangku yang hilang”
Nenek :”Iya Tumbu, tapi jangan seperti ini, makanan jadi tumpah semua kan?!”
Lalu datanglah Monalisa, dia marah-marah kepada nenek karena melihat meja yang berantakan. Melihat hal itu Tumbu ketakutan lalu menjauh.
Mona :”Apa-apaan ini? Rumahku berantakan seperti ini, pasti kamu kan yang melakukannya?”
Nenek :”Ya Allah Mona, kamu kasar sekali pada nenek. Dari kecil yang menjagamu nenek. Tapi seperti ini balasanmu?”
Mona :”Nenek itu bukan Ibuku. Toh aku juga sudah muak dengan semua ocehan nenek. Sok ngajarin terus!”
Nenek :”Astaghfirullah.. jaga kata-katamu nak! Nenek hanya ingin melaksanakan wasiat almarhum kedua orang tuamu”
Mona :”Persetan dengan wasiat”
Nenek menangis berlinang air mata melihat kelakuan Mona yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Nenek masuk ke dalam rumah
Mona :”Cengeng. Gitu aja nangis”
Tumbu masuk
Tumbu :”Hey.... ada orang gila”
Mona :”Kamu itu yang gila!”
Tumbu :”Ngapain kamu disini!”(bentak tumbu)
Mona :”seharusnya aku yang tanya padamu. Ngapain kamu dirumahku? Sudah pergi sana!”
Tumbu :”Mana nenekmu?”
Mona :”Ow.... kau mencari nenek tua itu? Dia tak ada”
Lalu nenek menghampiri Tumbu dengan membawa tas baju.
Nenek :”Ayo Tumbu, kita pergi dari sini. Tak usah bicara dengannya. Percuma tak ada gunanya”
Mona, Nenek, tumbu keluar area. Area menjadi sepi.
Bu Wati dan Mayangsari datang dari arah yang berlawanan. Mayangsari membawa setumpuk buku, dan Bu Wati tertawa sumringah dengan uang yang banyak di tangannya. Mereka berdua tubrukan, saling jatuh. Uang dan buku juga ikut terjatuh. Lalu dari belakang Bu Wati, mbok Iyem lari ketakutan seperti dikejar-kejar. Yah.....mereka bertiga jatuh lagi deh..
Mbok Iyem:”Maaf bu!”
Bu Wati :”Maaf maaf.. wani piro?”
Mbok Iyem:”Jamu?”
Mayang :”Maaf bu, saya tidak sengaja”
Bu Wati :”Ya...gak papa. Lain kali kalau jalan lihat jalannya”
Mayangsari pergi
Bu Wati :”Hei nak! Bukumu ketinggalan”
Mayangsari menghampiri
Bu Wati :”Kamu penulis? Mayangsari cengceremeng kan?”
Mayang :”Iya bu, saya Mayangsari cengceremeng”
Bu Rani :”Oh... kalau begitu senang berkenalan denganmu. Saya Wati. Wati trigonometri. Pengusaha rongsok terbesar di negeri ini. Ini, saya ada sedikit uang buat kamu, soalnya hari ini saya lagi dapat banyak rezeki. Ya...itung-itung buat nebus karena tadi saya sudah membentakmu”
Mbok Yem:”Wah... ibu ini tu pengusaha to, tapi kok pengusaha rongsok. Hahahaha....”
Bu Wati :”Diam kau! Meskipun Aku ini hanya seorang pengusaha rongsok, yang penting kan banyak uang. La daripada kamu? Cuma tukang jamu saja blagu!”
Mayang :”Ibu kok seperti itu?tidak baik bu mencerca orang lain. Dan saya sangat berterima kasih sekali atas kebaikan bu Wati. Mungkin uang ini belum pantas ada di tangan saya”
Bu Wati :”Ow... ya sudahlah! Ayo kita minum dulu sambil ngobrol-ngobrol”
Di tengah-tengah perbincangannya, Mona datang dengan senyum pamrih soalnya dia tahu bahwa Bu Wati sedang membawa banyak uang
Mona :”Selamat siang semuanya. Perkenalkan, saya Monalisa Ratuhiu dari pantai Sebrang. Mayangsari ini adalah adik saya. Mayang, ayo antar kakak ke market, odolnya habis nih!”
Mayang :”Iya Kak”
Bu Wati :”Ow... kamu kakaknya Mayang? Senang bertemu denganmu”
Mayang :”Bu, saya pamit dulu. Lain waktu bisa kita sambung lagi”
Mona :”Aduh Mayang, dompet kakak ketinggalan nih. Udah dari rumah kesini jauh lagi”
Mayang :”Kalo Cuma beli odol mah Mayang ada. Kan harganya gak sampai 10.000”
Mona :”Ya kan nanti ada embel-embelnya, bakso, es degan”
Bu Wati :”Ini ada sedikit uang untuk kalian”
Dengan sigap uang yang di berikan bu Wati di ambil oleh Mona tapi Mayang langsung mengambilnya.
Mayang :”Sekali lagi terima kasih Bu, kami langsung pamit saja”
Mona :”Napa sih uangnya dikembalikan, kan enak kalau dapat uang banyak”
Mona dan Mayang pergi,
Bu Wati :”Hhahahahhaha... untung saja kalian tidak menerima uang hasil korupsiku selama ini”
Tumbu datang
Tumbu :”Woi... ada yang korupsi”
Bu Wati :”Wong edan! Diam kau! Kau mau aku di penjara?”
Tumbu :”Awas... ada koruptor rongsok!”
Bu Wati :”Hei kau ini apa-apaan sih? Lepaskan tanganku. Jangan diikat”
Tumbu :”Biar kau segera gak berkeliaran. Kan nanti kasihan pengusaha ha pengusaha ha yang lain”
Bu Wati :”Gendeng kau!”
Tumbu :”Biarin!”
Nenek datang
Nenek :”Lepaskan dia Tum, beri dia waktu untuk berbicara”
Tumbu :”Hoalah mbah....mbah........masa aku mau melepaskannya? Gak mau aku! Dia kan juga telah mengambil uangku.pokoknya dia harus gila”
Bu Wati :”Gila gundulmu! Kamu itu yang gila! Dari timur ke barat, pakaian compang-camping, bicara ngelantur gak jelas, mengganggu kesenangan orang lain. Dasar!”
Nenek :”Kalian sama-sama gilanya. Teriak-teriak di depan umum. Coba lihat diri kalian, merasa paling benar sendiri. Tum, kalau kamu tak mau melepaskannya, sebaiknya kita pergi dari sini. Kita lanjutkan mencari Mayang”
Tumbu :”Yuk...”
Bu Wati :”Heh,,,nenek tua bangka! Aku gimana? Huft..dasar”
Bu Wati keluar dari area panggung
Bang yai datang sambil membawa tasbih. Lalu duduk dengan tenang. Lalu mbok Yem juga datang mendekati bang yai
Mbok yem :”Jamune mas jamune.. ada beras kencur, beras kuning, beras kutah, beras ketan dan beras-beras lainnya”
Bang yai :”Nasinya ada?”
Mbok yem :”hhahaha....bang yai ada ada saja. Tumben siang-siang gini sudah tapa. Biasanya kan habis ‘asyar”
Bang yai :”Yang ini jamu apa?”
Mbok yem :”Jamu kuat”
Bang yai :”Astaghfirullah..... ente gak perlu bicara dengan nada begitu. Bisa mengundang syahwat”
Mbok yem :”Ah... bang yai bisa saja”
Tiba-tiba Mayang datang menghampiri Bang yai dan mbok yem
Mayang :”Benar mbok yem, nada perkataan mbok yem lebih mendekati kata merayu”
Mbok yem :”Tahu dari mana kamu? Sok tahu! Heh,aku itu memang lagi merayu bang yai. Soalnya dari dulu aku sudah ngincer dia. Masih muda, cakep, gokil lagi”
Mayang :”Gokil darimana? Pakai sarung kayak gitu? Gak banget deh”
Mbok yem :”Ah... kamu kan memang gak kenal sama cowok”
Mayang :”Heh..sembarangan saja mbok yem bicara. Mbok yem aja yang gak kenal sama laki-laki. Buktinya saja sampai sekarang mbok yem belum juga menikah”
Mbok yem :”Ya biarin. Yang penting kan aku masih suka sama cowok, sedang kau? Anti lelaki”
Bang yai :”Astaghfirullah... tak boleh berkata seperti itu. Nanti bisa termakan ucapan sendiri lho”
Mbok yem :”Ah... gak kok bang yai. Tadi Cuma bercanda saja”(menyolek bang yai)
Bang yai :”Hei .... bukan muhrim, astaghfirullah”
Bang yai :”Mayang, saya sengaja kesini ingin mengajakmu bicara”
Mayang :”Bicara saja bang”
Bang yai :”Dan kamu mbok yem,untuk sementara waktu tidak berkeliaran di dekat saya, silahkan”
Mbok yem :”Aduh, bang yai kok gitu sih sama Iyem, bang yai jahat deh.... jamu...jamu”(pergi)
Mayang :”Ada apa bang?”
Bang yai :”Mayang, kamu tahu kan, bagaimana sikap kakakmu akhir-akhir ini?”
Mayang :”Memang kenapa?”
Bang yai :”Kakakmu sudah mengusir nenek”
Mayang :”Nenek siapa?”
Bang yai :”Nenekmu, mbah cikrak”
Mayang :”Apa? Bang yai tahu darimana?”
Bang yai :”Dari tumbu”
Mayang :”Tumbu, adiknya bang yai yang agak gila itu kan”
Bang yai :”Iya, tadi pagi Tumbu mengajak nenekmu kerumah abang. Baju-bajunya juga sekalian dibawa. Nenekmu cerita pada abang kalau beliau sudah tak betah hidup dengan Mona. Mona mengusirnya hanya gara-gara nenekmu dituduh membuang makanan. Padahal itu ulah si tumbu”
Mayang :”Ya allah... sampai segitunya? Iya bang, nanti Mayang yang akan bicara dengan mbak Mona. Tapi sekarang nenek baik-baik saja kan?”
Bang yai :”Alhamdulillah, beliau masih dalam selimut Allah, aman”
Mayang :”Bang, aku mau tanya. Kok tumbu bisa jadi gila kenapa?”
Bang yai :”Dulu, sewaktu dia masih kecil, dia dan saya sudah ditinggalkan oleh abi dan umi meninggal dunia. Dia stres. Dia memilih mengurung diri di kamar. Saat menuruni tangga, dia terjatuh dan kepalanya terbentur sehingga frustasinya semakin menjadi-jadi”
Mayang :”kok namanya bisa Tumbu?”
Bang yai :”dulu dia sering main tumbu dan dibuatnya seperti gendang”
Mayang :”Bang aku Cuma ingin menyampaikan amanah, mumpung ketemu dengan bang yai”
Bang yai :”Apa?”
Mayang :”Gini lho bang. Mbok Iyem kan sudah lama ngincer abang. Toh abang juga belum ada tambatan hati. Jadi daripada menjadikan fitnah lebih baik abang segera menikah”
Bang yai :”Apa? Menikah?”
Mayang :”Iya Bang. Ada yang salah dengan ucapanku?”
Bang yai :”Oh...tidak. kamu tidak salah. Memang seharusnya abang menikah. Bila memang jodoh abang si Iyem, ya apa boleh buat? Jodoh sudah di tangan Tuhan kan?”
Mayang :”Mungkin akan lebih baiknya lagi abang mempertimbangkannya terlebih dahulu”
Bang yai :”Iyem?”
Mayang :”Mungkin bisa saja bukan dengan dia”
Bang yai :”Lantas? Denganmu?”
Mayang :”Sepertinya juga bukan denganku”
Bang yai :”Lalu?”
Mayang :”Entahlah”(pergi meninggalkan Bang yai sendiri)
Bang yai :”Ya Allah, beri hamba yang terbaik dari segala yang terbaik. Amin”
Bang yai berdiri, lalu
Bang yai :”Aduh...kakiku kaku kaku.....!!aduh,............”
Mbok iyem mendekat,
Mbok yem :”Ada apa bang? Abang kakinya kenapa? Abang yai perlu jamu? Yang ini aja ya bang, ini jamu kuat lho. Lho? Abang kemana? Kok hilang seperti ninja? Abang yai......”
Tiba-tiba nenek datang dengan tertatih-tatih
Nenek :”Gimana dia tidak mau pergi melihat penampilanmu seperti ini? Coba kamu perbaiki penempilan dan tutur bicaramu. Dengan begitu mungkin saja dia mau saat kau hampiri. Lah....kalau kamu masih dengan penampilanmu yang seperti ini?
Mbok yem :”Mbah mau, mengajariku seperti itu? Untuk abang yai, semua pasti kulakukan”
Nenek :”Penampilanmu mencerminkan hati dan fikiranmu. Kamu minta bantuan Mayang saja. Dia cucuku”
Mbok yem :”Mayang? Dia cucu nenek?”
Nenek :”Iya, kamu sudah kenal dengannya?”
Mbok yem :”Dia musuhku nek! Dia juga sudah merebut hati bang yai dariku. Emang sih, kayaknya bang yai lebih tertarik dengan Mayang. Huft... dunia memang sudah gendeng!”
Nenek :”Kau itu yang gendeng!”
Tumbu lari di belakang nenek sambil mengganggu mbok yem, lalu Mona datang menyusul,
Mona :”Tumbu.....! kemana kau?”
Tumbu :”Aku disini”
Mona :”Mana rotiku? Apa? Habis?”
Tumbu :”Nenek.......tolong aku dari serangan serigala.... nenek”
Mona :”Nenek...nenek.... itu bukan nenekmu. Itu nenekku!”
Nenek :”Kalau aku nenekmu, mengapa kau sudah mengusirku?”
Mona :”Ya karena aku khilaf”
Mbok yem :”Makan tu khilaf!”
Mona :”Kau ini siapa sih? Cuma tukang jamu aja blagu. Ow........kamu itu tukang jamu yang sering mangkal di perempatan jalan itu kan, yang katanya naksir bang yai?”
Mbok yem :”Iya, memang kenapa? Kamu JEALOUS ya sama aku? Hahahahha.....akulah makhluk tuhan yang tercipta yang paling sexy. Gak kayak kamu”
Nenek :”Heh, jangan sembarangan menghina orang lain. Bisa saja yang kamu hina itu lebih baik darimu”
Mona :”Sukurin deh, dapet ceramahan”
Nenek :”Sama saja denganmu Mona, mungkin kau memang pantas untuk dihina. Karena sikapmu yang juga sering meremehkan orang lain, bahkan nenekmu sendiri yang sedari kecil merawatmu ikut menjadi korban remehanmu”
Mona :”Nek, yang kemarin itu Mona sungguh khilaf. Mona minta maaf ya nek”
Nenek :”Oke, karena kanjeng nabi Muhammad SAW mengajari umatnya untuk saling memaafkan, nenek memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat, kamu tidak boleh lagi meremehkan orang lain. Sekalipun itu orang yang paling kamu benci. Mengerti?”
Mona :”Iya nek, terimakasih ya nek”
Mbok yem :”Dengar tu apa kata si mbah”
Nenek :”Kamu juga, jangan asal jeplak kalau ngomong”
Tumbu :”Mbah....”(terpotong karena bang yai datang)
Bang yai datang,
Bang yai :”Assalamualaikum”
Nenek :”Wa’alaikumsalam”
Mbok yem :”Eh... bang yai...”
Nenek :”Iyem”
Mbok yem :”Iya nek”(tertunduk)
Nenek :”Ada apa nak?”
Mbok yem clingak-clinguk mencari sesuatu,
Bang yai :”Begini nek, saya dan tumbu tidak bermaksud mengusir nenek dari rumah saya. Tapi mumpung kita berkumpul disini, juga ada Mona, saya ingin nenek kembali ke keluarga nenek. Karena saya yakin Mona dan Mayang masih sangat menyayangi nenek”
Tumbu :”Ngapain kamu clingak-clinguk kayak cecunguk minta dijenguk di kebun jeruk sama beruk?”(ke mbok yem, semua pemain melihat aksi Tumbu dan mbok yem)
Mbok yem :”Abang kok gak sama pacarnya yang baru naksir cowok itu?”
Bang yai :”Siapa yang kau maksud? Mayang? Dia bukan pacar saya. Jadi begini lho nek, tujuan kedua saya menemui nenek itu saya ingin.....”
Tiba-tiba tumbu terpeleset jatuh dan pingsan. Mona dan mbok yem menggotong tubuh tumbu keluar area. Tinggalah nenek dan bang yai
Bang yai :”Saya ingin menjadikan Mayang sebagai istri saya nek”
Nenek :”Apa? Istri?”
Bang yai :”Iya nek. Karena walinya hanya ada nenek, saya bilang ke nenek saja”
Nenek :”Apakah kamu yakin benar-benar yakin dengan perkataanmu?”
Bang yai :”Iya nek, saya yakin”
Nenek :”Nenek tidak bisa memutuskannya. Lebih baik kamu bicara langsung dengan Mayang. Besok sehabis Isya’ kamu ke rumah nenek”
Malam harinya harinya,
Bang yai :”Assalamu’alaikum”
Nenek :”Wa’alaikumsalam, silahkan masuk”
Bang yai dan tumbu masuk ke dalam rumah
Nenek :”Mayang, Mona, ke ruang tamu, ada bang yai dan Nida”
Mona :”Nida siapa nek?”
Nenek :”Sudah cepetan sini”
Mayang :”Lho tumbu?? Kok cantik sekali?”
Tumbu :”Terima kasih mbak”
Mona :”Mana Nida nek? dan Dia itu siapa?”
Bang yai :”Nida itu nama asli tumbu”
Mona & mayang:”Apa?????????”
Nenek :”Sudah..sudah.. bahas Nida nya nanti saja. Nak, ayo langsung bicara saja”
Bang yai :”Baik nek. Begini, maksud kedatangan saya kesini saya ingin melamarmu Mayang”
Mayang :”Apa? Melamarku?”
Bang yai :”Iya Mayang. Perbincangan hari lalu telah membuka pintu hati saya. Saya mencoba melakukan apa yang kamu nasehatkan. Ternyata Allah menjawab dengan adanya wajahmu. Kita telah dipersatukan oleh cinta, Mayang”
Mayang :”Tapi, bagaimana dengan mbok Iyem?”
Bang yai :”Sudahlah, saya yakin dia akan mendapatkan jodoh yang lebih baik dari saya”
Nida :”Mayang, cinta itu tak mengenal apa dan siapa. Karena cinta yang dipandang hanyalah hati. Dan karena cinta hanya terletak di dalam hati. Cinta yang suci akan menjadi permadani yang indah”
Mayang :”Wah...wah.....wah... indah sekali kata-katamu Nid, terimakasih ya”
Mona :”Ini diminum dulu”
Nenek :”Gimana Nduk? Lamaran bang yai diterima?”
Mona :”Udah... diterima saja”
Mayang :”Bismillahirahmanirrahim, iya saya terima”
Bang yai :”Alhamdulillah”(mau memeluk Mayang)
Nida :”Eitz............ belum muhrim”
All :”Hahahahahahahahahahahah”
Tiba-tiba Bu Wati datang,
Bu Wati :”Mayang...Mayang...”
Nenek :”masuk”
Mayang :”Nenek, perkenalkan,ini teman saya, Bu Wati”
Bu wati :”Wati. Wati trigonometri”
Nenek :”Neneknya Mona dan Mayang”
Bu Wati :”Lho.... nenek kan yang? Dan kamu kan orang gila yang mengikat saya kemarin kan?”
Mayang :”Yang ini nenek saya, yang ini bukan orang gila, dia Nida, dia sudah sembuh dari sakitnya”
Bu Wati :”Lho.... lho... kok rame banget?Ada acara apa nih?”
Mona :”Bu Wati, disini ada acara lamaran”
Bu Wati :”Lamaran? Siapa?”
Mona :”Bang yai dengan Mayang”
Bu Wati :”Wah... Mayang, selamat ya”
Mayang :”Trimakasih bu”
Bu Wati :”Oya, ini ada oleh-oleh dari Bandung buat sekeluarga”
Nenek :”Tapi bukan dari uang korupsi kan?”
All :”Hahahahahahahahahah.....”
Tiba-tiba mbok yem masuk ke area,
Mbok yem :”Tumini bojone cahyo cahyo 2x..........”
Nene k :”Weleh-weleh..... salamnya mana?Mblusuk gitu aja?”
Mbok yem :”Hehe... maaf ya mbah. Lho, abang yai kok ada disini? Lho... itu kan wong edan, kok juga ada disini? Kamu?”
Nenek :”Begini Iyem, Mayang dilamar bang yai. Yang ini bukan orang gila. Namanya Nida, dia baru sembuh dari sakitnya. Dan yang ini Bu Wati, sengaja kesini membawakan oleh-oleh untuk Mayang”
Mbok yem :”Abang yai... abang yai jahat padaku”(ngglesor)
Nida :”Mbok yem, jodoh tak akan lari kemana. Jika abang sudah dengan Mayang, Nida yakin mbok yem akan mendapatkan yang lebih baik dari abang”
Nenek :”Benar kata Nida. Kamu harus lapang dada Yem”
Mona :”Udah, jangan nangis. Kayak bayi aja”
Bu Wati :”Ehm...ehm...ehm.... ini ada sedikit uang buat kamu, cup..cup...cup”
Bang yai :”Iyem.... maafkan aku ya”
Mayang :”Karenamu aku mengenal calon suamiku”
Mbok yem :”Uhu uhu uhu uhu uhu uhu,,,, iya”
Akhirnya Bang Yai dan Mayang menikah dan memiliki 210 anak laki-laki. Tumbu tumbuh menjadi wanita yang anggun. Mbok Yem menhabiskan hari-harinya dengan meminum jamunya. Mona dan Nenek bersatu dan membangun sebuah rumah bersama di kebon Jeruk.
-THE END-