.

Glitter Text
Make your own Glitter Graphics

selamat datang.........

semoga Allah selalu memudahakn jalan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh

mungkin ini adalah saya

Foto saya
asalamu'alaikum wr.wb, dalam naungan Ridho Illahi semoga hidup penuh kedamaian walau didahului oleh permusuhan.. salam ukhuwah islamiyah

DEMI FAJAR

Ku lirik jam dinding merah marun di sudut kamarku yang kurang lebih berukuran 5x5 m2 terus berdetak menunjukkan arah jarum jam 02.40 dini hari. Tidak terlalu dini untuk anak seumuranku, gadis remaja 17 tahun jika ada waktu Lail untuk sejenak sujud dan mengadu pada Sang Kholiq. Aku putuskan untuk membuka mataku lebar-lebar, guna ku akan beranjak dari tempat tidurku. Di kamar mandi samping kamar Ibu dan Bapakku tempat yang ku tuju untuk membasuh sebagian badanku, agar kurasakan kesegaran hawa dini hari, atau mungkin bisa saja, orang-orang menyebutnya dengan wudlu. Aku teringat akan apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dulu, “ Basuhlah sebagian tubuhmu saat kau telah beranjak dari tidurmu, karena sesungguhnya agama Islam penyempurna ini cinta pada kebersihan”. Ya, seperti itulah kanjeng Nabi menuturkan.


Ku ambil sajadah dan mukena di balik rak buku, tepatnya di almari pakaianku. Kubentangkan sajadah merah muda yang kini warnanya sudah mulai pudar. Namun manfaatnya tidak akan pernah pudar sampai tiada hari lagi. Ku bersimpuh dihadapan Tuhan Yang Maha Esa. Mengadu dan memohon sejadi-jadinya, berharap aku tidak merasakan lagi nafas yang selalu hambur saat melakukan aktifitas. Yang biasanya saat aku membantu bapakku mengangkat barang-barang, oksigen sungguh sulit sekali rasanya untuk masuk ke dalam paru-paru mungilku. Boleh saja itu asma. Aku mengidap asma sudah sejak umur 13 tahun. Ku jalani hari-hariku sebagaimana biasanya walau terkadang penyakit ini datang tanpa undangan. “ Ya Tuhan… beri hamba-Mu ini kelapangan dada untuk bisa merasakan dan menikmati apa yang telah Kau berikan pada hamba. Karena hamba yakin dan percaya, suatu hari nanti Kau akan mengambil apa yang ada pada hamba”, begitulah sepercik do’aku yang mungkin lebih sering ku panjatkan pada Pemilik nyawa ini.


Ku pandangi jam yang sedari tadi berdenting keras. Arahnya menunjukkan pukul 05.00 pagi.” Astaghfirullah, aku ketiduran saat sholat tadi”, pekikku dalam hati. Segera kulaksanakan solat Shubuh.


Pagi ini sepertinya embun sedang enggan menyapa. Tak kudapati ia di ranting pohon depan rumah. Padahal ia berjanji akan menyapaku pagi ini diatas pipiku. “ Dian…… bantu bapak angkat barang-barang ini. Ibumu masih sibuk dengan kerjannya. Ayo Dian, buruan.. keburu dipatok ayam nanti rezeki kita”, ujar bapakku yang memang setiap harinya selalu sibuk mengangkat barang-barang untuk dijualnya di pasar. “ Iya bapak”, jawabku singkat. Ku langkahkan kakiku mendekatinya. “ Jangan lupa, cabe yang di karung paling besar itu juga dimasukkan”, tegas bapakku. “ Iya bapak”, jawabku sekali lagi dengan singkatnya seperti jawabanku yang mula tadi saat ia memanggilku. Di tengah kesibukanku mengangkat barang, Risna teman karibku muncul tanpa di undang pula,” Benar kata bapakmu itu Din, kalau gak segera diambil, rezekinya bakal diambil dulu sama ayam, alias orang lain yang lebih beruntung”.


“ Risna, kamu pagi-pagi gini kok sudah apel dirumahku? Cari mas Didin? Atau …”, tebakku.


“ Atau apa? Tadi itu aku gak sengaja lewat sini, habis dari mengantar ibu ke jalan Suromenggolo. Aku dengar sekali suara khas bapakmu, saat bilang tentang rezeki itu”, ujar Risna.


“Oh ya, nanti kita bahas lagi masalah rezeki di kelas ya, sekarang aku masih harus bantu mengangkat barang-barang ini. Kalau kamu masih tetap disini saja, mungkin sampai besok, kerjaan ini gak akan kelar”, kataku.


“Toyyib, fahimtu ya ukhti, sa adzhab (ok, aku faham, aku akan pergi kok), assalamu’alaikum”, katanya dengan nada menyerah.


“ Wa’alaikumsalam, ya ukthi”, jawabku.


Jam berlalu dari angka 6. Saatnya aku untuk melaksanakan kewajibanku dalam menuntut ilmu. Madrasah Aliyah II tempat yang akan ku kunjungi dan bahkan sampai setahun setengah lagi aku di tempat itu. Aku mulai merasakan oksigen sulit sekali rasanya untuk ku hirup. Padahal pagi ini, awan dan udara cenderung bersahabat. “ Mungkin karena aku kelelahan membantu bapak mengangkat barang-barang tadi pagi”, tebakku dalam hati kecil.


Sesampainya, pukul 06.40 aku telah sampai di halaman depan ruang guru. Aku merasakan sakit yang luar biasa pada dadaku. Sungguh aku sangat sulit sekali untuk bisa menghirup oksigen. Apalagi perjalananku dari rumah hingga madrasah bisa memakan waktu kurang lebih 15 menit dengan mengayuh sepeda ontel milik ayahku dulu.


Tak tahu apa yang telah terjadi padaku. Aku terbangun dari pejaman mataku. Kulihat jam menunjukkan pukul 11.00 siang. Sejenak aku bingung dengan apa yang telah terjadi padaku. Namun hal ini bukan hal baru untukku. Aku mulai sadar bahwa aku berada di rumah sakit. Aku bernafas dibantu dengan selang kecil di bawah hidung, dan juga terdapat beberapa infuse di tanganku.


“ Alhamdullilah, kau sudah sadar? Tadi aku panik sekali. Kamu jatuh di depan ruang guru. Pak Isyaq yang sudah bawa kamu kesini. Beliau langsung memberi tahuku bahwa kamu pingsan. Ya sudah aku langsung kesini, nungguin kamu. Kamu gak papa kan?”, jelas Risna panjang lebar.


“ Ih…kamu seperti seorang Ibu aja. Takut jika anaknya sakit. Iya, ini sudah agak mendingan. Kamu gak ikut pelajaran? Kan ini waktunya Bu Aisyah, Ta’lim muta’alim?”, ujarku padanya.


“ Ah..gak aja. Lagi BM. Bad Mood gitu”, katanya sambil meraihkan segelas air putih dimeja sebelah ku berbaring.


Ku duga bahwa dokter akan memeriksaku sebentar lagi. Pradugaku benar. 5 menit kemudian dokter menghampiriku. Kacamata yang tebal, dan jenggot mengesankan watak keras pada dirinya. Namun ternyata tidak. Bahkan sebaliknya, ia sangat santun sekali dalam berbicara dan bertingkah. Aku sudah diperbolehkan pulang, jika memang aku sudah kuat dan merasa tidak memerlukan bantuan tabung oksigen itu. Sejam kemudian, aku beranjak meninggalkan ruangan yang penuh dengan aroma obat-obatan. Dengan diantar pak Isyaq yang sedari tadi sudah di telfon Risna untuk membantuku pulang ke rumah nanti.


Sesampai dirumah, Ibu dan Bapak sudah panik menungguku. Ternyata mereka sudah tahu bahwa tadi aku pingsan dan sempat dilarikan kerumah sakit. Mereka ingin sekali menengokku kesana, namun mobil growong yang biasa dibawa bapak masih dipinjam sebentar oleh bang Alen untuk mengambil bawang ke desa seberang.


“ Gimana nduk, sudah merasa mendingan belum. Tidur di kamar Ibu aja, nanti Ibu pijitin. Kamarmu masih dibersihkan sama mas-mu”, pekik Ibuku dengan penuh kekhawatiran (sambil membopongku ke kamarnya).


“ Terima kasih banyak ya pak, sudah mau mengantarkan Dina sampai rumah. Maaf sekali jika keadaan rumah kami seperti ini. Haha…maklum, rakyat kecil”, kata Bapak.


“ Jangan merendah seperti itu pak. Biar miskin harta yang penting kaya hati. Saya merasakan kesederhanaan dan kekayaan di keluarga ini. Keluarga yang sejahtera. Pak, apa Dina sudah sering sakit seperti ini?”, Tanya pak Isyaq.


“ Iya, sudah 4 tahun ini dia mengidap asma. Namun akhir-akhir ini parah. Sering keluar masuk rumah sakit. Untung saja keluarga kami mendapat surat tanda miskin. Jadi biaya rumah sakit sudah ditanggung sama pemerintah. Dokter-dokter di rumah sakit itu sudah mengenal Dina. Ya, karena Dina sering kesana. Haha, ngamar disana. Obat-obatan sudah menjadi makanannya. Sekali ia telat minum obat, dia akan merasakan sesak yang luar biasa”, jelas Bapak lengkap seperti apa yang sudah di paparkan dokter Adi 4 bulan yang lalu.


“ Bapak yang sabar ya, sesungguhnya Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Saya yakin, keluarga bapak adalah orang yang kaya dan kuat. Di balik ini ada hikmahnya pak. Sudah ketentuan dari Gusti Allah apa yang telah menimpa keluarga sakinah Bapak. Pak, saya mohon pamit dulu, takut jika nanti anak-anak bingung mencari saya, karena saat ini ada ujian Hadist. Saya permisi dulu, pak, salam untuk Dina dan Ibu, assalamu’alaikum”, tukas pak Isyaq, yang aku pun juga bisa mendengar kata-katanya dengan jelas.


Hari berganti hari, hingga berganti bulan. Masih seperti kebiasaanku untuk konsumsi obat secara rutin. Dini hari ini ada yang mengganjal dalam benakku. Saat seperti biasanya aku terbangun dari tidur dan mimpi indahku, aku mengambil air wudlu yang sedikit sekali kupercikan karena hawa pun rasanya juga berbeda dengan malam-malam kemarin, sedikit agak menusuk ruas-ruas tulang badanku. Takut jika seandainya nanti asma datang melanda tubuh yang semakin mungil ini. Sesaat setelah ku hadapkan jiwaku pada yang telah menciptakanku, kulantukan syair-syair indah dari Al-qur’an. Tak terasa pipiku telah basah oleh air mata. Air mata yang menggenang di bawah mataku sepertinya berhasil membuat jejak. Jejak bengkak yang bisa membuatku kelihatan seperti empunya mata sipit.


Detik-detik berlalu, aku memilih tidak masuk sekolah hari ini. Karena aku ingin dirumah saja hari ini. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku mengangkat barang-barang untuk dibawa ke pasar. Namun hanya sebentar saja aku membantu bapak. Karena rasa sesak sudah dahulu menghampiriku. Aku memilih untuk istirahat sejenak di ruang depan tv. Aku tertidur. Bahkan pulas. Aku bermimpi, aku berada di tempat seperti di desa. Penuh dengan bunga-bunnga bermekaran yang indah sekali. Aku melihat banyak sekali kupu-kupu berwarna-warni. Namun disitu, kebingungan datang padaku,” Mengapa disini sepi?”. Aku merasa sangat bahagia sekali di tempat yang ku sebut desa ini. Sangat luas. Maha luas.


“Din, bangun ! ayo sholat dhuhur. Ada teman-temanmu disini”, ujar mas Didin.


Aku terperanjat dari tidurku. Ku lihat di sekelilingku sudah banyak teman madrasahku. Aku bingung mengapa mereka ada di rumahku? Dan siapa yang membawa mereka kesini? Apa tujuannya? Ternyata aku sudah dua hari tertidur. Rasanya masih sejam yang lalu. Namun saat ku buka mata, yang kurasakan masih sama, hawa dingin yang menusuk tulang, dan awan biru tersenyum padaku.


“ Lho…..kalian disini? Kok tidak sekolah?”, tanyaku.


“ Din, kami jenguk kamu. Kata Risna kamu sakit lagi. Sudah dua hari tiada kabarmu. Entah angin mana yang membawa hati kami untuk menjengukmu”, ujar Tofik mewakili teman-teman lain. Kurang lebih ada 40an temanku yang menjengukku. Ada yang mengganjal di benakku. Rasanya, sakit yang selama ini mengurungku, kini seperti tak kurasakan lagi. Hilang, lepas dan bebas.


“ Din, ini pialamu”, tukas Tofik.


“ Piala apa?”, tanyaku bingung.


“Piala kejuaraan. Kamu memenangkan lomba debat Bahasa Arab mengenai ringkasan surat al-Fajr, dan ini pialanya. Masa kamu sudah lupa? Perjuanganmu selama ini tidak sia-sia, kawanku. Aku bangga berteman denganmu. Aku dan teman-teman berharap kamu bangkit dari sakitmu. Kamu pasti bisa sembuh Din. Kita semua sayang kamu, Din. Dan tak pernah terlintas di benak jika harus kehilanganmu”, jawab Tofik.


“ Ahhahahaha…… kamu bicara apa sih, aku kan gak pergi kemana-mana. Jadi tidak mungkin aku hilang.. kan aku sekarang disini. Terima kasih ya, kalian sungguh baik sekali padaku. Aku, belum bisa membalas kebaikan kalian. Biar Allah saja nanti yang membalasnya. Oya, bagaimanana keadaan pak Jarot? Beliau masih di rawat di rumah sakit?”, aku angkat bicara.


“ Alhamdulilah, beliau sudah sembuh. Sungguh luar biasa perjuangannya untuk sembuh. Ikhtiar dan do’anya tiada henti. Maka Allah mengabulkan segala do’anya untuk bisa segera sembuh dari penyakit batu ginjal itu. Sekarang, banyak murid-murid yang suka padanya”, ujar Tofik.


“ Kok bisa, bukankah beliau terkenal galak?”, tanyaku penuh dengan penasaran.


“ Jenggotnya sudah dikupas habis”, jawab Tofik


“ Hahahahahhahahah”, tawa teman-teman menggelegar dirumahku.


Sesaat kemudian, di tengah gelagak tawa mereka entah apa yang menyuruhku melantunkan sebuah lagu :


Bukankah hati kita telah lama menyatu


Dalam tali kisah persahabatan Illahi


Genggam erat tangan kita terakhir kalinya


Hapus air mata meski kita kan terpisah


Selamat jalan teman


Tetaplah berjuang semoga kita bertemu kembali


Kenang masa indah kita seindah hari ini


Sesaat kudengar lantunan ayat :


$pkçJ­ƒr'¯»tƒ ß§øÿ¨Z9$# èp¨ZÍ´yJôÜßJø9$# ÇËÐÈ ûÓÉëÅ_ö$# 4n<Î) Å7În/u ZpuŠÅÊ#u Zp¨ŠÅÊó£D ÇËÑÈ Í?ä{÷Š$$sù Îû Ï»t6Ïã ÇËÒÈ Í?ä{÷Š$#ur ÓÉL¨Zy_ ÇÌÉÈ


27. Hai jiwa yang tenang.


28. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.


29. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,


30. Masuklah ke dalam syurga-Ku


Sejuk, tenang, damai, dan……………… gelap.












you raise me up



When I am down and, oh my soul, so weary;
When troubles come and my heart burdened be;
Then, I am still and wait here in the silence,
Until you come and sit awhile with me.

You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.

You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.

There is no life - no life without its hunger;
Each restless heart beats so imperfectly;
But when you come and I am filled with wonder,
Sometimes, I think I glimpse eternity.

You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.

You raise me up, so I can stand on mountains;
You raise me up, to walk on stormy seas;
I am strong, when I am on your shoulders;
You raise me up... To more than I can be.

You raise me up... To more than I can be.

BUTA MALAM, MALAM MEMBUTAKAN



Suasana malam hari, di sebuah ruang keluarga terdapat satu meja pendek, dan beberapa kursi untuk duduk. Di bagian kanan terdapat pintu keluar. Sementara di kiri dalam juga terdapat pintu ke ruang dalam. Di dinding belakang terdapat foto keluarga.



Suasana hening, ayah mondar-mandir. Sesekali melihat ke pintu luar. Seorang ibu yang sudah agak tua duduk, tampak kesedihan dan kebingungan di wajahnya.



Ibu : kesedihanmu juga kesedihanku



Ayah : apa maksudmu ,Bu?



Ibu : iya Yah,hari terakhir ini, Ibu selalu dapatkan asam darimu



Ayah : ibu, maksudmu apa? Jangan buat aku mencoba berfikir lagi! ( sambil mendekat ke arah wajah ibu)



Ibu : tanpa ayah menjelaskan ternyata aku sudah tau sendiri dari jawaban asam mu itu ( sambil tertawa kecil pada ayah)



Ayah pergi meninggalkan ibu,tanpa basa-basi, namun dengan fikiran yang lebih mengacau atas pernyataan ibu.



Datanglah anaknya, ANA dan HANA



Ana : ibu kenapa ketawa- ketawa sendiri?( dengan enaknya sendiri Hana metingkrang di atas kursi dan kakinya pun ikut ke atas kursi.



Hana : halah, biasa . Ibu itu kan sudah agak mulai....



Ibu : mulai apa? Mulai gila. Kamu itu yang gila. Dasar! Anak gak tau di untung! Kalo saja kamu bukan anakku, pasti kamu sudah tak cincang. Lihat saja, mana ada seorang anak yang berani ngatain ibunya gila, kecuali anak gak sopan kayak kamu itu? Ibu peringatkan lagi. Jaga sopan santunmu. Lihat! Kamu harus mencontoh perilaku adikmu ini. Anaknya rajin, sholehah, sopan, gak kayak kamu, yang sukanya Cuma berfoya-foya.



Hana : terus saja ibu bela-in Ana. Aku gak peduli. ( sambil melangkah pergi)



Ibu : ana, jangan berubah seperti kakakmu ya. Ibu sudah cukup bangga akan semua yang kamu perbuat.



Muncullah Hana untuk meminta uang



Hana : bu, aku minta uang buat bayar buku, sekarang!



Ibu : apa kamu dah buta? Ini kan udah malam. Masa kamu mau bayar buku sekarang? O....ibu tahu, pasti kamu mau keluar sama laki-laki bajingan itu kan?



Hana : ibu ngomong apa sih? Bilang ja kalau gak mau ngasih uang.( melangkah pergi lagi )



Ayah : ada apa sih bu, dari tadi ribut terus. ( Ana melangkah pergi ke kamar saat ayahnya menanyai ibu)



Ibu : itu lo Yah, si Hana. Makin hari kelakuannya makin kurang ajar. Masa tadi dia mau bilang kalau ibu sudah gila?



Ayah : ( duduk ke kursi ) sebenarnya akhir hari ini ayah juga memikirkan nasib kita.



Ibu : maksud ayah?( sambil mendekati ayah)



Ayah : ya iya bu, . fikir saja sendiri. Ini PR buat ibu. Karena ibu tadi juga memberi ayah PR.



Tok-tok-tok.... pintu terketuk dengan keras namun bijak



Ibu melangkah keluar membukakan pintu.



Polisi : selamat malam . Betul dengan orang tuanya Hana?



Ibu : iya benar, ada apa pak? Ada yang bisa saya bantu?



Polisi : ini surat keterangan penahanan anak anda, Hana.



( polisi tersebut melangkah pergi )



Ibu : ini Yah. Surat untuk Hana..



Ayah : surat apa? Surat cinta?



Ibu : entahlah, dari polisi.



Ayah : polisi?



Ibu bergegas tidur tidak mau mengerti soal Hana anaknya.



Ayah : lho? Ibu mau kemana?



Ibu : mau tidur dulu. Aku sudah capek mengurusi anak seperti dia.



Ayah : ( membaca nya lalu berteriak) apa??? Tak pernah ku sangka dia akan sekeji ini.



Hana keluar dari kamar sambil mengucek-ucek matanya.



Hana : ada apa sih Yah, gak tahu apa, kalo udah jam 11 malam. Malu ma tetangga kalo ayah teriak-teriak gak jelas kayak gitu.



Ayah : plak( tamparan ) kamu ini yang buat ayah sama ibu selalu kesal. Kamu tahu ini apa? Dan kamu tahu kenapa ayah tampar kamu?



Hana : (menggeleng-geleng sambil memegangi pipinya yang mendadak merah karena tamparan namun tak merasa bersalah)



Ayah : ni, fikir saja pakai otakmu yang sudah penuh dengan setan.! ( surat itu di lemparkannya ke wajah Hana)



Hana : apa? Aku akan di tangkap polisi? Wah dasar,,,



Aduh…. Gimana ini? Apa aku kabur aja ya?



Tak terasa ternyata adik-adiknya sedari tadi memperhatikannya.



Ani : jangan lari dari masalah kakakku. Itu sama saja kakak pecundang. ( kata Ani dengan sifat yang begitu bijak)



Hana : anak kecil tahu apa?



Ani : kak, bukankah kakak yang masih seperti anak kecil? Mau main petak umpet kok sama polisi?



Hana : diam kamu!! Pergi kekamar sana!



Ana : benar kak. Ani benar.



Hana : benar apanya? O… ya..memang benar. Kalau dia itu masih anak kecil



Ana :bukan itu kak



Hana : halah kamu itu sama saja dengan yang lainnya. Udah sana tidur.



Ana : kak, tapi kakak itu salah



Hana : salah apa? Kalau salah katakan. Jangan bisanya Cuma nasehatin saja.



Ana : ( duduk )kak, Ana sudah tahu masalah kakak. Semenjak di tinggal ayah kandung kita, kakak seperti ini. Suka keluar malam sama laki-laki gak jelas.



Hana : lah,, kamu itu juga masih kecil. Tahu apa?



Ana : kak, dengerin Ana dulu. Ana belum selesai ngomong. Ingat gak, dulu ayah pernah memberi amanah ke kakak untuk tidak membuat ayah dan ibu sedih.Tapi sekarang? Lihat kelakuan kakak?! Apa kakak pernah melihat ibu tersenyum karena ulah kakak setelah kepergian ayah? Iya kak? Ayo jawab.!



Hana duduk terlemas di samping ana dan membelakanginya.



Hana : selama ini, aku Cuma inginkan satu. Menyusul ayah disana. Kamu tahu, kalau ayah rela mati demi kita?( dengan nada rendah )



Ana : rela mati? Kenapa harus rela mati? Bukannya mati sudah ada garisnya sendiri?



Hana : ah… sudah. Aku tak mau mengingatnya lagi. Sana kamu pergi tidur.



Ana dan Hana pergi ke kamar masing-masing. Memang. Setiap malam, keluarga ini pasti begadang karena selalu saja ada masalah yang datang di malam hari.



Keluarlah ibu sambil terisak tangis.



Ani : ibu, kenapa kok menangis? Ibu mimpi buruk?



Ibu : tidak nak, ibu Cuma berfikir



Ani : berfikir apa? Kok sampai menangis?



Ibu : kakakmu. Sepertinya ibu sudah tidak bisa menjaga kakakmu Hana.



Ani : kenapa sampai seperti itu bu?



Ibu : nak, kakakmu ini sudah hampir membuat ibu kehilangan seorang suami lagi. Dan ibu tidak mau itu. Ayahmu itu sayang sekali sama kalian, namun dia tidak pernah mau membalas semua jasa ayahmu.



Ani : apa sih, bu maksudnya. Ani semakin gak jelas dengan ucapan ibu( malah kembali ke kamar )



Sejenak kemudian, ayah keluar dengan membawa sebuah tas yang mungkin cukup terisi.



Ibu : ayah hendak kemana malam buta seperti ini?



Ayah : entahlah bu, ayah sendiri juga mungkin tanpa tujuan. Rasanya kepala ini ingin muntahkan sebanyak mungkin saraf – saraf nya.



Ibu : ayah ngomong apa sih..



Ayah : (duduk di atas lantai nggeletak ) entah bu, aku juga udah gak tahu harus berfikir apa dan bagaimana lagi. Ayah sudah tak tahan lagi dengan tingkah anakmu itu. Terlalu menyakitkan.



(sambil beranjak pergi meninggalkan keluarga itu sambil membawa tas nya)



Ibu hanya membiarkannya



Ana : ada apa bu, kok seperti sedih?



Ibu : ayahmu pergi lagi dan juga meninggalkan lagi.



Ana : pergi kemana?



Ibu : sepertinya pergi mencari untuk mati.



Ana : kenapa ibu berkata seperti itu?



Ibu : karena dirinya sendiri yang sudah tak betah hidup disini malam ini.



Tiba-tiba Hana muncul lagi



Hana : maksudmu karena aku?



Ibu : jika tahu kenapa harus tahu juga jawabannya. Jawabannya ada di pertanyaanmu.( dengan nada marah dan mengejek )



Hana : gak usah berbelit Bu, hahahaha…….tapi aku malah senang kalau akhirnya laki-laki tak berguna itu gak ada disini.



Ibu : dan aku akan lebih senang lagi jika suatu saat nanti kamu segera menyusulnya, pergi dari sini.



“brak.....bruk....brukk....”







^^ THE END ^^



my pet


www.spacezapper.com